Jumat, 08 Maret 2013


Tetap Perempuan
Mereka anggap perempuan itu lemah.
Realita,...banyak beban yang diembankan di pundakmu.
Mereka kata perempuan itu harus lembut.
Realita,...dunia yang harus kau jalani begitu keras.
Mereka inginkan perempuan itu harus indah.
Realita,...mereka sendiri suka merusak keindahan.
Tak harus kau jadi lemah.
Jika realita, lemah adalah alasan menjadi obyek penganiayaan.
Tak apa bila kau lembut.
Selama itu menjadi simbol ketentraman.
Namun realita,..menjadikanmu anti dengan pemberontakan.
Tak apa jika memang kau indah.
Maka jagalah, jangan biarkan itu menjadikanmu komoditas.
Tak  mengapa jika kau memang lemah, lembut dan indah.
Tak mengapa jika kau tak inginkan lemah, lembut dan indah.
Karena kau tetap perempuan.


Jumat, 11 Januari 2013

Larangan Membonceng Ngangkang Bagi Perempuan, Setujukah Kamu?



To:
Gamawan Fauzi, Menteri Dalam Negeri RI
Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia
Mencabut Aturan Larangan Mengangkang Naik Motor di Lhokseumawe

Apa yang membuat seorang pria terangsang? Di Aceh, itu perempuan mengangkang di sepeda motor!

Tampaknya, seperti psikolog, laki-laki Aceh melihat sepeda motor sebagai simbol phallus. Seorang wanita duduk mengangkang sepeda motor sehingga memunculkan gambar mental yang mengangkangi seksual oleh perempuan - dan itu membuat orang baik merasa terancam, atau mendapat motor mereka terkesan liar!

Menurut Yusuf A. Samad, anggota Dewan Legislatif Lhokseumawe, mengangkangi sepeda motor menonjolkan lekuk tubuh wanita, dan "Menampilkan lekuk tubuh wanita adalah melawan syariah" (The Jakarta Post, 3 Januari).

Untuk melindungi laki-laki dan marwah perempuan (kehormatan diri), Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya berencana untuk menerapkan perda (peraturan daerah) yang disebut qanun di Aceh, melarang perempuan mengangkang di sepeda motor ketika mereka naik pembonceng, untuk mencegah orang-orang terkena godaan.

Dia bisa melakukan ini karena "otonomi khusus" diberikan kepada Aceh untuk mencegah memisahkan diri seperti Timor Leste pada 1999. Aceh memiliki identitas lokal yang kuat, dari mana Islam merupakan bagian sentral - maka pemerintahan sendiri dan syariah. Di tempat lain di Indonesia, kekuatan agama disediakan untuk pemerintah pusat, namun Aceh mendapat perlakuan khusus, untuk menenangkan rakyatnya.

Tapi di mana akan semua itu berhenti? Mungkin suatu hari pemerintah Aceh akan merasa perlu untuk melewati qanun yang melarang perempuan dari membungkuk untuk mengambil sesuatu ketika mereka berada di tempat umum karena bisa membuat pria berpikir bahwa wanita mengundang dia untuk memiliki gaya bercinta ala anjing!

Saya awalnya lega membaca bahwa, untuk sekali ini, pemerintah pusat bereaksi dengan cepat (lihat The Jakarta Post, 4 Januari). Alasannya? Kepala Kementerian Hukum Kepala Zudan Arif Fakrulloh mengatakan bahwa qanun tersebut akan melanggar hak-hak perempuan dan juga bertentangan dengan hukum nasional. Duh!

Tapi kemudian saya membaca artikel di surat kabar Indonesia lainnya pada hari berikutnya, yang menyatakan bahwa pemerintah daerah Lhokseumawe akan menerapkan larangan anti-mengangkang segera, meskipun fakta bahwa ia hanya akan disahkan menjadi UU dalam waktu tiga bulan '. Jadi apa yang terjadi? Tentu Kementerian Dalam Negeri tidak memiliki hak untuk memblokir peraturan, tapi tampaknya seolah-olah itu belum benar-benar dilakukannya dalam kasus ini - Zudan tampaknya telah hanya menyatakan niat. Dan bahkan jika pemerintah pusat tidak bertindak, pemerintah daerah sering mengabaikan intervensi tersebut pula.

Bukan berarti ada banyak dari mereka. Sementara pemerintah pusat telah mencabut hampir 1.900 peraturan daerah selama 10 tahun terakhir, sebagian besar menyangkut keuangan. Ini cenderung mengabaikan mereka sepenuhnya diskriminasi terhadap perempuan. Bahkan jika qanun anti-mengangkang diblokir, bagaimana dengan satu di khalwat (kedekatan ilegal dalam pengasingan) No 14/2003, dan persyaratan busana Islami banyak yang berlaku di Aceh?

Ini bukan masalah kecil. Pada tahun 2010, misalnya, seorang wanita muda ditahan karena dicurigai melakukan khalwat dengan pacarnya. Selama penahanannya dia diperkosa oleh tiga anggota hisbah wilayatul (syariah polisi). Ini akan menjadi ironis jika itu tidak begitu tragis.

Dalam pengertian ini, qanun anti-mengangkang mencerminkan sejumlah masalah dengan politik desentralisasi, tidak ada yang unik untuk Aceh: kekacauan hukum, pola pikir patriarkal dan otoriter, prioritas pembangunan yang salah, dan (seperti biasa) degradasi perempuan.

Bahkan, keberadaan berbagai tingkat hukum - nasional, lokal, tradisional dan agama - telah menciptakan banyak kebingungan di seluruh Indonesia. Banyak Perda buruk dirancang dan tidak jelas, dan mengabaikan hukum yang sudah ada sebelumnya. Keluhan juga sering dibuat tentang perda yang memaksakan agama norma diturunkan dalam nama "ketertiban umum" daripada meningkatkan pelayanan publik. Namun pemerintah pusat tidak benar-benar peduli banyak tentang setiap perda, kecuali melibatkan pajak dll, dan mengurangi aliran pendapatan Jakarta. Karena itu masih harus dilihat apakah akan, pada kenyataannya, benar-benar berhenti peraturan anti-mengangkangi di Aceh.

Ini, sekali lagi, ironis, karena banyak "ketertiban umum" dan "moralitas" terkait qanun memaksakan pembatasan terhadap perempuan, atau "menyimpang sosial" (misalnya, kelompok punk, orang transgender, homoseksual) mencerminkan patriarkal, otoriter dan moral pola pikir yang harks kembali ke Orde Baru. Dalam pengertian ini, qanun yang mendiskriminasikan perempuan merupakan ekspresi dari kepanikan moral, mengganggu dari masalah yang lebih serius yang dihadapi Aceh: kemiskinan, pengangguran, kesehatan yang buruk dan pendidikan. Jadi banyak untuk reformasi, ya?

Pada akhirnya, mentalitas balik qanun anti-mengangkangi adalah "menyalahkan wanita" untuk segala sesuatu, termasuk laki-laki nafsu dan kebrutalan. Hal ini sedikit berbeda dari motivasi mendorong pemerkosaan yang fatal menghebohkan dari seorang mahasiswa terapi 23-tahun fisik di India baru-baru, dengan pemimpin dari enam nya pemerkosa blak-blakan menyatakan ia "layak" karena dia berani untuk berdiri kepadanya.

Perempuan Aceh dikenal karena keberanian mereka. Cut Nyak Dien dan perempuan prajurit lainnya Aceh terlibat dalam pertempuran bersenjata melawan Belanda setelah suami mereka tewas dalam pertempuran. Yang disebut Inong Balee perempuan melakukan hal yang sama selama konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pasukan Indonesia 1976-2005. Apakah kekuatan perempuan Aceh yang berjuang untuk identitas Aceh sekarang sedang dilucuti oleh syariah yang sangat mereka berjuang untuk?

Jadi, perempuan Aceh, saluran semangat Cut Nyak Dien, dan perjuangan, bukan melawan Belanda, tetapi melawan Anda sendiri, konyol dan terobsesi seks penindas, yang tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan daripada untuk membuat qanun yang absurd yang pasti menentang benar berarti Islam! Mungkin reli sepeda motor-mengangkangi massa akan menjadi awal yang baik?
Sincerely,
[Your name]

Kamis, 17 Mei 2012

18 Mei 2012
aku tak tahu apa yang terjadi dalam diriku, perlahan diriku yang dulu menghilang. aku sekarang menemui diriku sbagai entitas yang selalu mengedepankan fungsi otak. Namun akhir-akhir ini aku merasa kering dan tak tahu arah. sering kali aku tak lagi mampu memaksa diriku sendiri untuk bangkit dan melawan nafsu yang melenakan.
ku kira Tuhan telah menegurku, bahwa ternyata untuk mengatur hawa nafsu ini manusia perlu mensosokkan entitas yang tak terbatas.
kemarin nggak tahu kenapa. aku seharian mengaji beberapa kali. ternyata itu membuat hatiku tenang dan pula aku lebih konsentrasi mengerjakan skripsi. aku jadi teringat dengan apa yang diwejangkan oleh ayahku untuk membaca alfatihah setiap habis sholat isya'. tapi sayangnya aku tidak pernah menjalankannya.
aku menempatkan diri ini seolah dalam perjalanan yang sangat jauh, perjalanan mencari Tuhan, perjalanan mencari How am I, dan menjawa pertanyaan what will you do in the wolrd? apakah hanya menjalani rutinitas bekerja, hasilnya untuk makan, lalu dikeluarkan? lalu tidur? jika hanya demikian mungkin hidup kita akan membosankan.

Minggu, 22 April 2012

Tanggal 22 April 2012
Curhat Galau
Malam ini tak begitu dingin, hangat malahan aku bilang. Namun kehangatan itu belum mampu menetramkan kegelisahanku. Kegelisahan yang timbul karena ulahku sendiri yang tak mau sedari awal bersungguh-sungguh mengerjakan skripsi. Kini saat deadline tinggal 1 bulan lebih beberapa hari baru ku menyadari, aku tertatih.
Ingin ku ulang waktu dan ku kumpulan serpihan semangat yang dulu pernah ada, bahwa ku ingin lulus semerter 7. Ingin ku "tambal" waktu yang terbuang itu dengan tekad yang tersisa dalam hati walaupun kadang tak mau berkompromi. Hampi-hampir dan sering aku akan terseret pada jurang kepesimisan. Banyak alasan yang menyertai itu: skripsi sudah ada yang bahaslah, sibuk ini itulah, dan lah-lah yang lain. Kadang aku ingin tidak percaya pada diriku sendiri, namun aku tambah bimbang. Jika aku tidak percaya dengan diriku sendiri lalu kepada siapa aku akan mempercayakan hidup ini. Akhirnya jimat yang manjur menentramkan jiwa ini adalah kata " Ayo Iin kamu pasti bisa"

Jumat, 20 April 2012

            Refleksi Hari Kartini

            Bertahun-tahun perjuangan para aktivis perempuan untuk mengeluarkan perempuan dari kungkungan patriarki ternyata masih di persimpangan. Perempuan masih saja tak punya kuasa, bahkan atas tubuhnya sendiri. Teringat salah satu hadits Nabi yang mengatakan:
الدنيا متاع وخير متاعها المرأة الصالحة  )رواه مسلم)
“ Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan yang shalihah”
Dulu aku tidak pernah berfikir kritis atas hadits ini, aku merasa tersanjung sebagai perempuan yang dikatakan menjadi perhiasan dunia dan aku merasa nyaman saat mendengarkannya. Tapi belakangan aku menjadi mempertanyakan,
1.       Ketika perempuan menjadi perhiasan, apakah kemudian ia hanya menjadi pelengkap? Yang berfungsi membantu yang “dilengkapi” agar mampu berjalan dengan baik.
2.       Ketika perempuan di analogikan sebagai perhiasan, apa kemudian ia seperti halnya benda yang dapat disimpan, diperlihatkan, dipamerkan, dimiliki dan bahkan dijual atas otoritas pemiliknya?
3.       Ketika perempuan dianggap sebagai perhiasan apakah itu berarti ia kehilangan independensi diri?
Banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Dia bukan sebagai pelengkap dan hanya menghiasi rumahnya. Tapi ia di garda depan, ujunng tombak keluarga yang memperjuangkan nasib anak-anaknya. Ku fikir kita harus beribu kali jika hendak mengatakan perempuan adalah perhiasan.
Dan jika memang benar perempuan itu perhiasan yang bisa memperindah, maka apalah arti keindahan itu sendiri jika malah menjadi kutukan bagi perempuan.  Karena keindahannya ia harus tersimpan dalam sudut-sudut rumah yang pengap dan hanya di kenalkan peran “ kasur, sumur dan dapur” , tubuh perempuan dianggap sebagai komoditi yang bisa diperjual belikan dan ia dituntut untuk menjaga keindahannya dalam belenggu budaya yang mendefinisikannya “Siapakah perempuan?”
Setiap langkah dari perempuan, tutur katanya, senyumnya, bicaranya, cara makan dan minumnya, cara memandangnya, jengkal dari tubuhnya, setiap helai benang yang melekat dibadannya dan atribut-atribut yang ada pada dirinya harus dipakemkan.  Hingga menjadikan perempuan tak mempunyai keberanian untuk mengenali diri sendiri secara telanjang.
Di awali oleh RA.Kartini generasi awal perempuan Indonesia yang menyadari pentingnya meningkatkan kualitas kaumnya. Sampai sini perjuangan perempuan belum purna. Estafet semangatnya harus terus berlanjut. Mengeluarkan perempuan dari " melengkapi" menjadi "mengendalikan". Hingga perempuan berani menjadi dirinya sendiri dan berdiri di atas kakinya sendiri. “Saatnya perempuan berani membuat keputusan”.
Aku mengenal kalian yang berbeda-beda dengan hatiku. Berbeda itu bukan berarti harus dibeda-bedakan. Karena berbeda itulah yang menyadarkan kita bahwa aku, kamu, kalian, mereka dan kita semua ada dengan keunikan masing-masing. I miss you all peacemakers generation YIFOS. (RI)

Senin, 16 April 2012

Untitled
Tangan-Mu begitu agung Tuhan,….
Tak mungkin kau ciptakan sesuatu yang tak sempurna
Tapi mungkin Kau menciptakan aku berbeda
Tak sempurna itu datang dari bahasa manusia
 Tidak normal datang dari pandangan yang tak suka
Yang kemudian menjadi tunas benci dan diskriminasi
 Kawan jika kau tak paham kata “berbeda” sudahlah,….
Tak usah kau memikirkannya lagi
Asalkan kau masih bisa menikmati keindahan ini
Keindahan sebagai manifestasi perbedaan,.
Yang tak kunjung usai kau jamahi dengan otak lugumu.
Oleh: Abtiq Mutma