Jumat, 20 April 2012

            Refleksi Hari Kartini

            Bertahun-tahun perjuangan para aktivis perempuan untuk mengeluarkan perempuan dari kungkungan patriarki ternyata masih di persimpangan. Perempuan masih saja tak punya kuasa, bahkan atas tubuhnya sendiri. Teringat salah satu hadits Nabi yang mengatakan:
الدنيا متاع وخير متاعها المرأة الصالحة  )رواه مسلم)
“ Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan yang shalihah”
Dulu aku tidak pernah berfikir kritis atas hadits ini, aku merasa tersanjung sebagai perempuan yang dikatakan menjadi perhiasan dunia dan aku merasa nyaman saat mendengarkannya. Tapi belakangan aku menjadi mempertanyakan,
1.       Ketika perempuan menjadi perhiasan, apakah kemudian ia hanya menjadi pelengkap? Yang berfungsi membantu yang “dilengkapi” agar mampu berjalan dengan baik.
2.       Ketika perempuan di analogikan sebagai perhiasan, apa kemudian ia seperti halnya benda yang dapat disimpan, diperlihatkan, dipamerkan, dimiliki dan bahkan dijual atas otoritas pemiliknya?
3.       Ketika perempuan dianggap sebagai perhiasan apakah itu berarti ia kehilangan independensi diri?
Banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Dia bukan sebagai pelengkap dan hanya menghiasi rumahnya. Tapi ia di garda depan, ujunng tombak keluarga yang memperjuangkan nasib anak-anaknya. Ku fikir kita harus beribu kali jika hendak mengatakan perempuan adalah perhiasan.
Dan jika memang benar perempuan itu perhiasan yang bisa memperindah, maka apalah arti keindahan itu sendiri jika malah menjadi kutukan bagi perempuan.  Karena keindahannya ia harus tersimpan dalam sudut-sudut rumah yang pengap dan hanya di kenalkan peran “ kasur, sumur dan dapur” , tubuh perempuan dianggap sebagai komoditi yang bisa diperjual belikan dan ia dituntut untuk menjaga keindahannya dalam belenggu budaya yang mendefinisikannya “Siapakah perempuan?”
Setiap langkah dari perempuan, tutur katanya, senyumnya, bicaranya, cara makan dan minumnya, cara memandangnya, jengkal dari tubuhnya, setiap helai benang yang melekat dibadannya dan atribut-atribut yang ada pada dirinya harus dipakemkan.  Hingga menjadikan perempuan tak mempunyai keberanian untuk mengenali diri sendiri secara telanjang.
Di awali oleh RA.Kartini generasi awal perempuan Indonesia yang menyadari pentingnya meningkatkan kualitas kaumnya. Sampai sini perjuangan perempuan belum purna. Estafet semangatnya harus terus berlanjut. Mengeluarkan perempuan dari " melengkapi" menjadi "mengendalikan". Hingga perempuan berani menjadi dirinya sendiri dan berdiri di atas kakinya sendiri. “Saatnya perempuan berani membuat keputusan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar