Bertahun-tahun
perjuangan para aktivis perempuan untuk mengeluarkan perempuan dari kungkungan
patriarki ternyata masih di persimpangan. Perempuan masih saja tak punya kuasa,
bahkan atas tubuhnya sendiri. Teringat salah satu hadits Nabi yang mengatakan:
الدنيا متاع
وخير متاعها المرأة الصالحة )رواه مسلم)
“ Dunia itu adalah perhiasan, dan
sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan yang shalihah”
Dulu aku tidak pernah berfikir kritis atas hadits ini, aku merasa
tersanjung sebagai perempuan yang dikatakan menjadi perhiasan dunia dan aku
merasa nyaman saat mendengarkannya. Tapi belakangan aku menjadi mempertanyakan,
1.
Ketika perempuan menjadi perhiasan, apakah
kemudian ia hanya menjadi pelengkap? Yang berfungsi membantu yang “dilengkapi”
agar mampu berjalan dengan baik.
2.
Ketika perempuan di analogikan sebagai
perhiasan, apa kemudian ia seperti halnya benda yang dapat disimpan,
diperlihatkan, dipamerkan, dimiliki dan bahkan dijual atas otoritas pemiliknya?
3.
Ketika
perempuan dianggap sebagai perhiasan apakah itu berarti ia kehilangan
independensi diri?
Banyak perempuan yang menjadi tulang
punggung keluarga. Dia bukan sebagai pelengkap dan hanya menghiasi rumahnya.
Tapi ia di garda depan, ujunng tombak keluarga yang memperjuangkan nasib
anak-anaknya. Ku fikir kita harus beribu kali jika hendak mengatakan perempuan
adalah perhiasan.
Dan jika memang benar perempuan itu
perhiasan yang bisa memperindah, maka apalah arti keindahan itu sendiri jika
malah menjadi kutukan bagi perempuan.
Karena keindahannya ia harus tersimpan dalam sudut-sudut rumah yang
pengap dan hanya di kenalkan peran “ kasur, sumur dan dapur” , tubuh
perempuan dianggap sebagai komoditi yang bisa diperjual belikan dan ia dituntut
untuk menjaga keindahannya dalam belenggu budaya yang mendefinisikannya
“Siapakah perempuan?”
Setiap langkah dari perempuan, tutur
katanya, senyumnya, bicaranya, cara makan dan minumnya, cara memandangnya,
jengkal dari tubuhnya, setiap helai benang yang melekat dibadannya dan
atribut-atribut yang ada pada dirinya harus dipakemkan. Hingga menjadikan perempuan tak mempunyai
keberanian untuk mengenali diri sendiri secara telanjang.
Di awali oleh RA.Kartini generasi
awal perempuan Indonesia yang menyadari pentingnya meningkatkan kualitas
kaumnya. Sampai sini perjuangan perempuan belum purna. Estafet semangatnya
harus terus berlanjut. Mengeluarkan perempuan dari " melengkapi" menjadi "mengendalikan". Hingga perempuan berani menjadi dirinya sendiri dan
berdiri di atas kakinya sendiri. “Saatnya perempuan berani membuat keputusan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar