18 Mei 2012
aku tak tahu apa yang terjadi dalam diriku, perlahan diriku yang dulu menghilang. aku sekarang menemui diriku sbagai entitas yang selalu mengedepankan fungsi otak. Namun akhir-akhir ini aku merasa kering dan tak tahu arah. sering kali aku tak lagi mampu memaksa diriku sendiri untuk bangkit dan melawan nafsu yang melenakan.
ku kira Tuhan telah menegurku, bahwa ternyata untuk mengatur hawa nafsu ini manusia perlu mensosokkan entitas yang tak terbatas.
kemarin nggak tahu kenapa. aku seharian mengaji beberapa kali. ternyata itu membuat hatiku tenang dan pula aku lebih konsentrasi mengerjakan skripsi. aku jadi teringat dengan apa yang diwejangkan oleh ayahku untuk membaca alfatihah setiap habis sholat isya'. tapi sayangnya aku tidak pernah menjalankannya.
aku menempatkan diri ini seolah dalam perjalanan yang sangat jauh, perjalanan mencari Tuhan, perjalanan mencari How am I, dan menjawa pertanyaan what will you do in the wolrd? apakah hanya menjalani rutinitas bekerja, hasilnya untuk makan, lalu dikeluarkan? lalu tidur? jika hanya demikian mungkin hidup kita akan membosankan.
Kamis, 17 Mei 2012
Minggu, 22 April 2012
Tanggal 22 April 2012
Curhat Galau
Malam ini tak begitu dingin, hangat malahan aku bilang. Namun kehangatan itu belum mampu menetramkan kegelisahanku. Kegelisahan yang timbul karena ulahku sendiri yang tak mau sedari awal bersungguh-sungguh mengerjakan skripsi. Kini saat deadline tinggal 1 bulan lebih beberapa hari baru ku menyadari, aku tertatih.
Ingin ku ulang waktu dan ku kumpulan serpihan semangat yang dulu pernah ada, bahwa ku ingin lulus semerter 7. Ingin ku "tambal" waktu yang terbuang itu dengan tekad yang tersisa dalam hati walaupun kadang tak mau berkompromi. Hampi-hampir dan sering aku akan terseret pada jurang kepesimisan. Banyak alasan yang menyertai itu: skripsi sudah ada yang bahaslah, sibuk ini itulah, dan lah-lah yang lain. Kadang aku ingin tidak percaya pada diriku sendiri, namun aku tambah bimbang. Jika aku tidak percaya dengan diriku sendiri lalu kepada siapa aku akan mempercayakan hidup ini. Akhirnya jimat yang manjur menentramkan jiwa ini adalah kata " Ayo Iin kamu pasti bisa"
Curhat Galau
Malam ini tak begitu dingin, hangat malahan aku bilang. Namun kehangatan itu belum mampu menetramkan kegelisahanku. Kegelisahan yang timbul karena ulahku sendiri yang tak mau sedari awal bersungguh-sungguh mengerjakan skripsi. Kini saat deadline tinggal 1 bulan lebih beberapa hari baru ku menyadari, aku tertatih.
Ingin ku ulang waktu dan ku kumpulan serpihan semangat yang dulu pernah ada, bahwa ku ingin lulus semerter 7. Ingin ku "tambal" waktu yang terbuang itu dengan tekad yang tersisa dalam hati walaupun kadang tak mau berkompromi. Hampi-hampir dan sering aku akan terseret pada jurang kepesimisan. Banyak alasan yang menyertai itu: skripsi sudah ada yang bahaslah, sibuk ini itulah, dan lah-lah yang lain. Kadang aku ingin tidak percaya pada diriku sendiri, namun aku tambah bimbang. Jika aku tidak percaya dengan diriku sendiri lalu kepada siapa aku akan mempercayakan hidup ini. Akhirnya jimat yang manjur menentramkan jiwa ini adalah kata " Ayo Iin kamu pasti bisa"
Jumat, 20 April 2012
Refleksi Hari Kartini
Bertahun-tahun
perjuangan para aktivis perempuan untuk mengeluarkan perempuan dari kungkungan
patriarki ternyata masih di persimpangan. Perempuan masih saja tak punya kuasa,
bahkan atas tubuhnya sendiri. Teringat salah satu hadits Nabi yang mengatakan:
الدنيا متاع
وخير متاعها المرأة الصالحة )رواه مسلم)
“ Dunia itu adalah perhiasan, dan
sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan yang shalihah”
Dulu aku tidak pernah berfikir kritis atas hadits ini, aku merasa
tersanjung sebagai perempuan yang dikatakan menjadi perhiasan dunia dan aku
merasa nyaman saat mendengarkannya. Tapi belakangan aku menjadi mempertanyakan,
1.
Ketika perempuan menjadi perhiasan, apakah
kemudian ia hanya menjadi pelengkap? Yang berfungsi membantu yang “dilengkapi”
agar mampu berjalan dengan baik.
2.
Ketika perempuan di analogikan sebagai
perhiasan, apa kemudian ia seperti halnya benda yang dapat disimpan,
diperlihatkan, dipamerkan, dimiliki dan bahkan dijual atas otoritas pemiliknya?
3.
Ketika
perempuan dianggap sebagai perhiasan apakah itu berarti ia kehilangan
independensi diri?
Banyak perempuan yang menjadi tulang
punggung keluarga. Dia bukan sebagai pelengkap dan hanya menghiasi rumahnya.
Tapi ia di garda depan, ujunng tombak keluarga yang memperjuangkan nasib
anak-anaknya. Ku fikir kita harus beribu kali jika hendak mengatakan perempuan
adalah perhiasan.
Dan jika memang benar perempuan itu
perhiasan yang bisa memperindah, maka apalah arti keindahan itu sendiri jika
malah menjadi kutukan bagi perempuan.
Karena keindahannya ia harus tersimpan dalam sudut-sudut rumah yang
pengap dan hanya di kenalkan peran “ kasur, sumur dan dapur” , tubuh
perempuan dianggap sebagai komoditi yang bisa diperjual belikan dan ia dituntut
untuk menjaga keindahannya dalam belenggu budaya yang mendefinisikannya
“Siapakah perempuan?”
Setiap langkah dari perempuan, tutur
katanya, senyumnya, bicaranya, cara makan dan minumnya, cara memandangnya,
jengkal dari tubuhnya, setiap helai benang yang melekat dibadannya dan
atribut-atribut yang ada pada dirinya harus dipakemkan. Hingga menjadikan perempuan tak mempunyai
keberanian untuk mengenali diri sendiri secara telanjang.
Di awali oleh RA.Kartini generasi
awal perempuan Indonesia yang menyadari pentingnya meningkatkan kualitas
kaumnya. Sampai sini perjuangan perempuan belum purna. Estafet semangatnya
harus terus berlanjut. Mengeluarkan perempuan dari " melengkapi" menjadi "mengendalikan". Hingga perempuan berani menjadi dirinya sendiri dan
berdiri di atas kakinya sendiri. “Saatnya perempuan berani membuat keputusan”.
Senin, 16 April 2012
Untitled
Tangan-Mu begitu agung Tuhan,….
Tak mungkin kau ciptakan sesuatu yang tak sempurna
Tapi mungkin Kau menciptakan aku berbeda
Tak sempurna itu datang dari bahasa manusia
Tidak normal datang dari pandangan yang tak suka
Yang kemudian menjadi tunas benci dan diskriminasi
Kawan jika kau tak paham kata “berbeda” sudahlah,….
Tak usah kau memikirkannya lagi
Asalkan kau masih bisa menikmati keindahan ini
Keindahan sebagai manifestasi perbedaan,.
Yang tak kunjung usai kau jamahi dengan otak lugumu.
Oleh: Abtiq Mutma
Tangan-Mu begitu agung Tuhan,….
Tak mungkin kau ciptakan sesuatu yang tak sempurna
Tapi mungkin Kau menciptakan aku berbeda
Tak sempurna itu datang dari bahasa manusia
Tidak normal datang dari pandangan yang tak suka
Yang kemudian menjadi tunas benci dan diskriminasi
Kawan jika kau tak paham kata “berbeda” sudahlah,….
Tak usah kau memikirkannya lagi
Asalkan kau masih bisa menikmati keindahan ini
Keindahan sebagai manifestasi perbedaan,.
Yang tak kunjung usai kau jamahi dengan otak lugumu.
Oleh: Abtiq Mutma
Review YIFOS Camp
Tanggal 9-15 April aku menyinggahi kota pelajar Yogjakarta yaitu untuk mengikuti YIFOS camp. Forum kepemudaan diskusi lintas iman ddan lintas sexual merayakan kebersamaan melalui keberagaman. Tepatnya acara dimulai pada tanggal 10-14 April di Omah Jawi Kaliurang, Yogyakarta. Namun peserta diminta datang lebih awal tanggal 9 April karena ada sesi perkenalan atau Welcome session yang diisi dengan perkenalan dari panitia dan permainan. Baru hari kedua ada acara perkenalan untuk peserta. Dan hari-hari selanjutnya kami mendapat banyak sekali materi dan pelajaran-pelajaran tentang nilai-nilai kebersamaan, keragaman, berbagi dan menghormati melalui diskusi juga permainan. Bersama teman dengan beraneka ragam latar belakang yang berbeda membuatku masih menyimpan berbagai tanya dalam otak. Mengapa bisa seperti itu, mengapa demikian, bagaimana jika seperti ini atau itu? Dll. Aku banyak belajar mengenai siapa diri sendiri. Teringat pertanyaan Bunda Anna apa yang dekat jauh dari kita tapi juga jauh dari kita. Kemudian ada yang menjawab diri sendiri. Karena sering kali kita tidak puas dengan diri malah menginginkannya untuk menjadi orang lain, atau karena kita telah tak mengenali diri kita yang seharusnya menjadi seutuhnya milik kita malah menjadi “instrument political” menjadi bahan rebutan adat, norma, budaya, keluarga, kapitalis dan politik. Sering kita tak mampu membawa diri ini seperti apa yang kita inginkan.Identitas apa yang ingin kita sematkan pada tubuh ini, baju apa yang ingin kita pakaikan dan nilai apa yang ingin kita jadikan pegangan. Dalam camp ini kita juga membongkar makna kenormalan dan ketidak normalan yang dikonsepsikan oleh masyarakat. Karena issu yang diusung adalah tentang LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, insexual, dan queer) maka kata normal dan tidak normal (terkait homosexual) yang sering kita dengar di masyarakat menjadi pembahasan yang paling dasar. Bahwa normal dan tidak normal adalah sebenarnya tiak ada. Karena kata normal samapi saat ini masih mengandung makna “ yang umum” sedangkan tidak normal adalah “berbeda”. Namun karena adanya yang berbeda itulah sesuatu menjadi indah makanya dualism normal dan tidak normal harus mengalami dekonstruksi menjadi nilai-nilai kebersamaan. Ketika mulai membahas tentang hukum-hukum agama tentanng praktek homosexual disitulah sessi yang menimbulkan beribu tanda tanya dalam tempurungku. Wajar, karena aku adalah mahasiswa tafsir hadits maka secara tidak sengaja atau seperti telah dikonsepsikan rapi dalam otakku untuk selalu memandang fenomena yang tertangkap oleh mata ini dengan menggunakan analisa tafsir. Apalagi jika itu berkenaan dengan hukum-hukum islam. Harapanku aku bisa kontinyu untuk bersama-sama dengan teman-teman LGBTIQ untuk memperjuangkan hak-hak mereka agar tak lagi di pandang “miring” di masyarakat. Tidak ada yang bisa memilih kita mau dilahirkan seperti apa, namun kita bisa memilih bagaimana hidup kita selanjutnya walaupun seringkali rencana itu tak sempurna. (KBS) Semarang, 16 April 2012 Abtiq Mutma
Tanggal 9-15 April aku menyinggahi kota pelajar Yogjakarta yaitu untuk mengikuti YIFOS camp. Forum kepemudaan diskusi lintas iman ddan lintas sexual merayakan kebersamaan melalui keberagaman. Tepatnya acara dimulai pada tanggal 10-14 April di Omah Jawi Kaliurang, Yogyakarta. Namun peserta diminta datang lebih awal tanggal 9 April karena ada sesi perkenalan atau Welcome session yang diisi dengan perkenalan dari panitia dan permainan. Baru hari kedua ada acara perkenalan untuk peserta. Dan hari-hari selanjutnya kami mendapat banyak sekali materi dan pelajaran-pelajaran tentang nilai-nilai kebersamaan, keragaman, berbagi dan menghormati melalui diskusi juga permainan. Bersama teman dengan beraneka ragam latar belakang yang berbeda membuatku masih menyimpan berbagai tanya dalam otak. Mengapa bisa seperti itu, mengapa demikian, bagaimana jika seperti ini atau itu? Dll. Aku banyak belajar mengenai siapa diri sendiri. Teringat pertanyaan Bunda Anna apa yang dekat jauh dari kita tapi juga jauh dari kita. Kemudian ada yang menjawab diri sendiri. Karena sering kali kita tidak puas dengan diri malah menginginkannya untuk menjadi orang lain, atau karena kita telah tak mengenali diri kita yang seharusnya menjadi seutuhnya milik kita malah menjadi “instrument political” menjadi bahan rebutan adat, norma, budaya, keluarga, kapitalis dan politik. Sering kita tak mampu membawa diri ini seperti apa yang kita inginkan.Identitas apa yang ingin kita sematkan pada tubuh ini, baju apa yang ingin kita pakaikan dan nilai apa yang ingin kita jadikan pegangan. Dalam camp ini kita juga membongkar makna kenormalan dan ketidak normalan yang dikonsepsikan oleh masyarakat. Karena issu yang diusung adalah tentang LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, insexual, dan queer) maka kata normal dan tidak normal (terkait homosexual) yang sering kita dengar di masyarakat menjadi pembahasan yang paling dasar. Bahwa normal dan tidak normal adalah sebenarnya tiak ada. Karena kata normal samapi saat ini masih mengandung makna “ yang umum” sedangkan tidak normal adalah “berbeda”. Namun karena adanya yang berbeda itulah sesuatu menjadi indah makanya dualism normal dan tidak normal harus mengalami dekonstruksi menjadi nilai-nilai kebersamaan. Ketika mulai membahas tentang hukum-hukum agama tentanng praktek homosexual disitulah sessi yang menimbulkan beribu tanda tanya dalam tempurungku. Wajar, karena aku adalah mahasiswa tafsir hadits maka secara tidak sengaja atau seperti telah dikonsepsikan rapi dalam otakku untuk selalu memandang fenomena yang tertangkap oleh mata ini dengan menggunakan analisa tafsir. Apalagi jika itu berkenaan dengan hukum-hukum islam. Harapanku aku bisa kontinyu untuk bersama-sama dengan teman-teman LGBTIQ untuk memperjuangkan hak-hak mereka agar tak lagi di pandang “miring” di masyarakat. Tidak ada yang bisa memilih kita mau dilahirkan seperti apa, namun kita bisa memilih bagaimana hidup kita selanjutnya walaupun seringkali rencana itu tak sempurna. (KBS) Semarang, 16 April 2012 Abtiq Mutma
Sabtu, 07 April 2012
Puisi dari rakyat
Balada Negeri Ini
Pejabat:
Rakyatku ulurkan
kepala kalian untukku
Akan ku susun
untuk sebagai tangga
menuju Istana kemegahanku
Percayalah setelah
aku sampai diatas akan ku ulurkan tanganku
Akan ku ajak
kalian bersamaku tertawa didalamnya,istanaku
Rakyat :
Pemimpinku… itu
yang selalu diucapkan manusia sejenismu
Tapi setelah
sampai di atas kalian berpaling kepada kami dan tersenyum
Tersenyum setelah
meludah kepada gundul-gundul yang pernah menjadi anak tanggamu ini.
Kami yang haus
karenamu apakah harus menelan ludahmu itu?
Pejabat:
Janganlah begitu
rakyatku sayang……..
Kalian adalah
segalanya bagiku.
Tahukah kalian,
aku berjuang mati-matian di mata internasional untuk kalian.
Ku pinjamkan uang
sana-sini agar kalian bisa makan.
Agar kalian selalu
kuat untuk ku injak.
Rakyat:
Ya…kami sangat
paham itu.
Kami adalah
segalanya bagimu
Karena keringat
kami kau peras
Kau nikmati
layaknya madu bagimu
Tulang kami adalah
tiang bagi kekuasaanmu
Dan atas nama
kemiskinan kami, kau seret Negara ini ke
perangkap neo-kolonialisme
Pejabat:
Janganlah berucap
seperti itu
Tidakkah kalian
rasakan saat bencana menimpa kalian.
Siapa yang
memberikan ganti rugi untuk kalian?
Dan aku selalu
ikhlas menjadi sibuk mengurus kalian
Ikhlas jika kalian
selalu dalam kemiskinan
Rakyat:
Brengsek….
Kami tidak miskin.
Negara ini sangat
kaya…tidakkah kau membuka matamu!
Bencana itu
hanyalah bentuk perjuangan alam.
Ia berjuang
sendiri untuk meyelamatkan diri dari perkosaan kapitalis
Alam berjuang
sendiri
Karena manusia
yang miskin hati seperti kalian tak pernah peduli
Dan satu-satunya
kemiskinan kami adalah miskin pemimpin yang punya hati nurani
Kau bohong dimata
dunia bahwa negeri ini miskin.
Kebohonganmu itu adalah
bentuk terbesar penjajahanmu.
Cuih …kami
kembalikan ludah busukmu itu.
Written
by: Abtiq Mutma
Rabu, 14 Maret 2012
Dengarkan jeritan kami
(untitled)
Kami bukan lagi
bunga pajangan
yang layu dalam jambangan.
Cantik dalam menurut
indah dalam menyerah
molek tidak menentang
ke neraka mesti mengikut
ke sorga hanya menumpang.
Kami bukan juga
bunga tercampak
dalam hidup terinjak-injak.
Penjual keringat murah
buruh separuh harga
tiada perlindungan
tiada persamaan,
sarat dimuati beban.
Kami telah berseru
dari balik dinding pingitan
dari dendam pemaduan
dari perdagangan di lorong malam
dari kesumat kawin paksaan:
"Kami manusia"
Sugiarti, 1962
Senin, 12 Maret 2012
Hak Perempuan
Salahkah (diciptakan) Sebagai
Perempuan ?
Seandainya
Rasulullah SAW masih hidup akan ku tanyakan banyak hal pada beliau tentang
perempuan. Sampai saat ini aku selalu meyakini bahwa Rasulullah pasti akan
memberikan jawaban yang bijaksana dan memuliakan perempuan karena bagaimanapun
Rasulullah SAW juga terlahir dari seorang perempuan.
Masih ku ingat
sewaktu aku kecil mengaji sering ku dengar tausiyah dari beberapa ustad dan
ustadzahku bahwa kebanyakan dari penghuni neraka adalah perempuan. Seperti yang
dijelaskan oleh beliau bahwa karena perempuan sering mengundang fitnah,
perempuan seringkali membantah suami, perempuan yang sering tergoda duniawi dan
perempuan dikatakan kurang agamanya karena perempuan tidak mengerjakan sholat
sepenuhnya dalam hidupnya dikarenakan terkurangi masa haid di setiap bulannya. Pernah
pula aku mendengarkan penjelasan bahwa perempuanlah
yang harus menanggung dosa ketika suaminya sholat menggunakan pakaian yang
masih najis karena sang istri saat mencucikannya. Bahkan pun ketika suaminya
selingkuh perempuan juga ikut menanggung dosa dengan alasan karena ia dinilai
tidak pandai memuaskan suami.
Dogma-dogma
yang pelan-pelan terjejal dalam otakku saat itu membuatku ingin memutar waktu
dan ingin mengubah takdir agar aku tidak terlahir sebagai perempuan. Sedangkan
hidup akan tetap mengalir, terserah manusia mau menjalani dengan sukarela atau
terpaksa. Masih ku ingat masa-masa itu dimana angan-angan surga yang melangit
akan dapat dicapai dengan mengabdikan diri kepada suami atau lebih tepatnya
jika memposisikan diri sebagai pelengkap yang baik.
Namun saat
hati ini tertarik dengan banyak hal diluar dogma-dogma yang ku terima dulu justru
membuat otak ini akhirnya mau untuk kompromi.
Dalam satu mata kuliyah gender yang saya ikut yang saat itu sedang
membahas tema imam perempuan. Salah satu pemakalah yang tidak setuju kalau
perempuan menjadi imam beralasan karena perempuan kurang agamanya, perempuan
mengundang fitnah hingga akhirnya adalah
karena perempuan merupakan makhluk terbanyak yang menghuni neraka. “ bagaiamana
bisa perempuan imam sholat sedangkan kebanyakan dari mereka adalah penghuni
neraka?” kemudian ia menguatkan
statemennya dengan salah satu hadits nabi yang menyatakan demikian yang
bunyinya :
عَنْ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ
تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ
النَّارِ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا
رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ قَالَتْ يَا
رَسُولَ اللَّهِ وَمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّينِ قَالَ أَمَّا نُقْصَانِ الْعَقْلِ
فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا مِنْ نُقْصَانِ الْعَقْلِ
وَتَمْكُثُ اللَّيَالِيَ مَا تُصَلِّي وَتُفْطِرُ فِي رَمَضَانَ فَهَذَا مِنْ نُقْصَانِ
الدِّينِ
Aku
benar-benar berfikir keras untuk mencernenya menjadi lebih logis. Tidak mungkin
Rasulullah bermaksud untuk mendiskriminasikan perempuan. Rasulullah SAW pasti menyayangi semua umatnya
baik laki-laki maupun perempuan, Rasulullah SAW pasti juga akan sepakat bahwa
kemulian seseorang tidak ditentukan dari jenis kelaminnya. Tidak ada satu dalil
pun yang menyatakan bahwa makhluk Tuhan yang punya penis itu mulia sedangkan
yang mempunyai vagina itu hina. Karena secara tegas Tuhan telah menjelaskan
bahwa kemuliaan seseorang adalah karena ketakwaannya.
إن أكرمكم عند الله أتقاكم
Dari sini bisa
kita lihat bahwa ada sesuatu yang ganjil tentang hadits diatas yang
menyatakan bahwa penghuni terbanyak dari
neraka dalah perempuan jika dipahami secara serampangan. Sehingga seolah-olah
derajat perempuan adalah lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Untuk memahami
hadits tersebut secara komprehensif memang perlu melakukan takhrij al hadits.
Namun terlepas dari itu, jika kita melihat pada budaya masyarakat arab saat itu
yang sama sekali tidak pro perempuan. Dimana perempuan saat itu dianggap
sebagai aib keluarga hingga jika melahirkan anak perempuan mereka merasa malu
dan kemudian membunuhnya, perempuan masa itu dianggap sama seperti barang yang
bisa diwariskan, sedangkan pergundikan dan pelacuran adalah hal yang sangat
wajar. Maka keikut sertaan perempuan dalam ranah social menjadi sangat tidak
dibutuhkan yang imbasnya kualitas perempuan baik dalam hal ilmu pengetahuan dan
ilmu agama tidak ada signifikansinya.
Sabda Nabi
diatas lebih mencerminkan keadaan wanita saat itu. Maka kemudian saya
memahaminya seolah nabi ingin mengatakan “ wahai kaum perempuan kalia jauh
tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan agama, maka jika kamu tetap seperti ini
terus pasti sebagian besar dari penghuni neraka adalah golongan kalian.” Dengan
perkataan yang sedikit “ menohok”
Rasulullah ingin mensupport perempuan untuk meningkatkan kualitasnya.
Saya sangat
menyadari jika pembaca ada yang berbeda dan tidak setuju dengan pendapat saya.
Memang disini saya tidak menyertakan takhrijul hadits, karena itu akan
membutuhkan kajian khusus yang lebih mendetail dari ini. Bagaimanapun anda
menanggapi pendapat saya, saya ucapkan terimakasih karena telah turut
memperdengarkan suara perempuan yang merindukan kebebasan.
Sabtu, 10 Maret 2012
Jangan Jadikan Alasan KDRT
SIKAP Al QUR’AN TERHADAP NUSYUZ
oleh: Muthmainnah Suyuthy
A. PENDAHULUAN
Dalam
rumah tangga sudah pastilah ada perselisihan. Perbedaan antara suami
dan istri adalah hal yang wajar, mengingat bahwa memang keduanya berumah
tangga adalah untuk saling melengkapi. Maka tidak dibenarkan jika
kemudian dengan adanya perbedaan itu menjadi alasan petikaian antara
keduanya, apalagi terjadi tindakan yang menyakiti antara satu kepada
yang lain. Ironisnya kontruks social kita seolah
membenarkan kekerasan suami terhadap istri yang dinilai sebagai
tindakan “edukatif” oleh suami bagi istri. Dalam Al Qur’an juga terdapat
ayat yang dipahami sebagai bentuk Allah melalui firmannya terhadap
tindakan tersebut.
Sebaimana realita yang ada, bahwa sebagian besar korban KDRT adalah perempuan. Indonesia telah 27 tahun meratifikasi UU CEDAW
(Committee on the Elimination of Discrimination Against Woman) tepatnya
pada 24 Juli tahun 1984. Namun jumlah kekerasan terhadap perempuan
belum mengalami pengurangan secara signifikan. Menurut catatan Badan
Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana
(BP3AKB) ada sekitar 634 kasus di tahun 2010, dengan 115 kasus adalah di
Kab. Semarang. Ada hal yang harus kita analisis mengapa bisa terjadi
seperti itu.
Dalam berumah tangga sebenarnya baik perempuan maupun laki-laki (suami) mempunyai potensi untuk melakukan nusyuz. Tapi mengapa dalam realitanya seolah-olah perempuanlah (istri) yang dinilai bisa melakukan nusyuz, hingga kemudian ia berhak untuk dipukul. Lalu apaka nusyuz hanya untuk perempuan saja? Maka perlu kajian yang lebih mendalam dalam pembahasan ini.
B. PEMBAHASAN
Ayat Tentang Nusyuz
Pembicaraan tentang nusyuz dalam Al Qur’an untuk pertama kali akan kita jumpai dalam Surat An Nisa’ ayat 34.
الرِّجَالُ
قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى
بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ
حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ
نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ
وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا ( النساء:34)
Artinya :
Kaum
laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang laindan karena mereka
(laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu,
maka wanita yang saleh adalah yang taat kepada Allahlagi memelihara diri
ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).
Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasihatilah
mereka, dan pisahkanlah mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka
menaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. [1]
Asbabun Nuzul
Jika dilihat dari asbab al nuzul dari
Surat Nisa’ ayat 34 adalah tentang kisah Habibah binti Muhammad Bin
salamah dengan suaminya Sa’id bin Rabi’ yang mengadu kepada Rasulullah,
karena telah ditampar suaminya sampai meninggalkan bekas diwajahnya.
Maka Rasulullah bersabda “ia (suamimu) tidak berhak berbuat demikian
(memukul)”. Maka turunlah ayat tersebut sebagai tuntunan untuk mendidik
istri.[2]
Makna Mufrodat
الرجال : bentuk jama’ dari rajul yang bisa diterjemahkan lelaki. Namun adapula yang memaknai rijal sebagai maskulinitas. Banyak ulama memahami rijal dalam ayat ini adalah para suami. Ini karena redaksi berikutnya yang menerangkan tentang pemberian nafkah dari rijal kepada nisa’.[3]
قوامون : bentuk jama’ dari qawwam yang terambil dari kata qaama. Dalam
al qur’an kita akan menemukan kata ini disandingkan dengan kata sholat
(perintah mengerjakan sholat dengan sempurna). Seseorang yang
melaksanakan tugas dan apa yang diharapkan kemudian disebut qo’im. Kalau dia melaksanakan tugas sesempurna mungkin dan berulang-ulang dia dinamai qawwam. Maka
terkait makna “pemimpin “ yang terkandung didalamnya adalah berarti
pemenuhan kebutuhan, perhatian, pemeliharaan dan pembinaan.
بما حفظ الله : karena Allah telah menjaga mereka. Artinya Allah memberikan perlindungan kepada perempuan dengan datangnya Islam. [4]
نشورهن :menjauhi, meninggalkan perintahnya, membangkang dan marah kepadanya.[5] Prof. Dr.Sri Suhanjati mengartikan nusyuz dengan menyimpang dari norma agama.
واضربهن :dalam kamus Munjid ada begitu banyak paling tidak ada 14 arti kata dlaraba. Memukul adalah salah satunya. Dlaraba juga mempunyai arti menggerakkan, melaksanakan, menempa dan yang arti yang lain.
Makna Global
Awal
dari ayat ini banyak menyinggung tentang kepemimpinan dalam rumah
tangga dimana dalam ayat ini jelas bahwa laki-lakilah yang diberi amanah
untuk menjadi pemimpindan penanggung jawab. Pemimpin bukan berarti
menguasai dan memiliki. Tapi memimpin adalah dalam artian melindungi,
mengarahkan, memenuhi kebutuhan dan membina. Bukan berarti memimpin
adalah memiliki bahkan menguasai. Jadi arti kata kepemimpinan suami
dalam rumah tangga adalah dengan tidak menghilangkan hak-hak asasi istri
sebagai manusia. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk menjadi
pemimpin yang otoriter, memaksa dan sewenang-wenang.
Kepemimpinan
yang diembankan kepada laki-laki adalah karena keunggulan laki-laki
atas apa yang mereka nafkahkan dari hartanya. Quraish Shihab berpendapat
dalam tafsirnya Al Mishbah karena laki-laki telah menafkahkan sebagian
hartanya untuk membayar mahar dan biaya hidup istri dan anak-anaknya.
Adapun Ali Asghar Engineer mengakui bahwa keunggulan laki-laki adalah
sebagai keunggulan fungsional, bukan keunggulan jenis kelamin.[6] Menurut Musdah Mulia bahwa posisi qawwam bagi laki-laki bukanlah bawaan dari lahir (otomatis)
bagi manusia yang berjenis kelamin laki-laki. Tapi adalah jika pertama,
dia memiliki kelebihan kualitas diatas perempuan baik fisik, moral,
intelektual dan financial. Kedua, karena memberi nafkah kepada
keluarganya. Maka kata rijal menggunakan lam ta’rif yang berarti definitive atau tertentu. [7] Kepemimpinan untuk setiap unit
merupakan suatu yang mutlak, lebih-lebih bagi setiap keluarga, karena
mereka selalu bersama dan merasa memiliki pasangan dan keluarganya.
Persoalan yang dihadapi suami istri, sering kali muncul dari sikap jiwa
yag tercermin dalam keceriaan wajah atau cemberutnya sehingga
persesuaian dan perselisihan dapat muncul seketika, tapi boleh jadi
muncul seketika.[8]
Quraish
Syihab kemudian menerangkan bahwa istri yang sholihah adalah istri yang
taat kepada Allah dan juga suaminya, setelah mereka bermusyawarah
bersama dan atau bila perintahnya tidak bertentangan dengan perintah
Allah serta tidak mengurangi hak-hak istri. Disamping itu istri-istri
tersebut diperintahkan untuk memelihara diri, hak-hak suami dan menjaga
rumah tangganya ketika suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara
mereka.[9]
Yaitu pada saat itu (pra islam) perempuan tidak terlindungi menjadi
terlindungi dengan adanya nash-nash al Qur’an maupun hadits yang
memerintahkan untuk menghormati perempuan. Suami wajib ditaati oleh
istrinya dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama serta
tidak bertentangan dengan hak pribadi sang istri. Bukan kewajiban taat
secara mutlak. Jangankan terhadap suami, terhadap ibu bapak pun
kebaktian mereka tidak boleh mencabut hak-hak pribadi seorang anak.[10]
Oleh karena tidak semua istri berperilaku selalu baik, maka bagi yang dikhawatirkan nusyuz atau melakukan pembangkangan maka kemudian diterangkan tahapan-tahapan dalam membina istri. Yaitu pertama,
dengan menggunakan nasehat atau kata-kata yang baik dan menyentuh.
Bukan dengan perkataan yang menjengkelkan, menyakiti atau menuduh yang
justru akan semakin menyulut perselisihan antara keduanya. Kedua,
jika dengan perkataan (nasehat) pembangkangan itu belum berakhir maka
yang dilakukan selanjutnya adalah pisah ranjang. Ada yang mengartikan
bahwa pisah ranjang masih dalam satu ranjang tapi enggan melakukan
hubungan seksual, karena yang digunakan redaksinya adalah fi bukan min. Ada pula yang mengartikan bahwa hijrah disini adalah pisah tempat tidur tapi masih dalam satu rumah, bahkan disertai dengan mendiamkan istri maksimal hingga 3 hari. Ketiga,
ketika setelah tahap kedua belum bisa mengubah keadaan maka tahap
selanjutnya adalah dengan memukulnya. Namun, pengertian memukul istri
disini hanyalah simbol dari peringatan keras. Melalui cara itu
sebenarnya suami sudah bisa melukai perasaan istri.
Telah diceritakan dalam asbabun nuzul
Rasulullah tidak membenarkan Sa’id yang memukul istrinya hingga
membekas. Artinya pukulan itulah haruslah yang tidak sampai menyakiti
istrinya. Sebagian penafsir termasuk Ar Razi dalam al Tafsir al Kabir wa Mafatih al Ghaib yang
memperbolehkan memukul istri adalah dengan menggunakan benda-benda yang
ringan seperti saputangan atau sikat gigi. Itu pun tidak pada wajah,
tapi pada bagian tubuh. Ar Razi juga menambahkan bahwa memukul istri
memang boleh, tapi meninggalkannya adalah lebih baik.
Contoh
konkrit dari pukulan yang tidak menyakiti adalah seperti yang dilakukan
oleh Nabi Ayyub ketika istrinya membangkang kepadanya. Sewaktu Nabi
Ayyub sakit, istrinya tidak mengerjakan perintahnya. Maka kemudian Nabi
Ayyub bersumpah bahwa kalau nanti beliau sembuh akan memukul istrinya.
Karena secara naluriah nabi Ayyub kesal karena istrinya mengabaikan
perintahnya. Setelah Nabi Ayyub sembuh dari sakitnya, kemudian Nabi
Ayyub tidak
jadi memukul istrinya karena rasa sayangnya kepada istrinya. Maka
kemudian Allah memberi petunjuk Nabi Ayyub bagaimana memukul dengan
tidak menyakiti, tapi dengan begitu telah memenuhi nadzarnya.
وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلَا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ (ص:44)
Artinya:
Maka
ambillah denganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan
janganlah kamu melanggar sumpah. Sesengguhnya kami dapati Ayyub adalah
orang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Seseungguhnya ia amat taat
kepada Tuhannya. (Shaad:44).
Ketika
istri sudah patuh maka tidak diperbolehkan suami untuk mengungkit apa
yang telah terjadi, namun haruslah focus untuk merajut keharmonisan
rumah tangga kembali. Dan tidak pula mencari-cari kesalahan istri
sehingga bisa sewenang-wenang kepadanya. Setelah itu Allah mengingatkan
kepada manusia bahwa Allah-lah yang Maha Tinggi dan Maha Besar maka
tidak diperbolehkan suami berlaku demikian karena merasa lebih dari
istri maupun sebaliknya.
Maka
ketika ada suami yang menyakiti memukul istrinya dengan disertai
menyakiti karena ia merasa telah diberi hak oleh Allah maka itu adalah
anggapan yang salah. Allah memandang laki-laki dan perempuan adalah
sama, tapi mengapa justru kadang sebagian makhluknya menganggap dirinya
superior dan yang sebagian lainnya adalah inferior.
Adapun nusyuz menurut Mahmud Al Alusy meliputi 4 perkara:
1. Tidak mau berhias, padahal suami menyukai yang demikian.
2. Tidak mematuhi perintah suami.
3. Meninggalkan perintah Allah.
4. Meninggalkan rumah tanpa izin.
Nusyuz yang paling parah adalah ketika meninggalkan perintah Allah. Misalnya meninggalkan sholat.
Bagaimana Jika Laki-Laki Nusyuz ?
Potensi untuk melakukan nusyuz juga dimiliki oleh laki-laki. Tapi mengapa selalu nusyuz perempuan yang selalu diperbincangkan.
وَإِنِ
امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ
عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ
وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ
اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (النساء: 128)
Artinya:
Jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz
suaminya atau sikap tidak acuh dari suaminya maka keduanya hendaklah
keduanya haruslah sungguh-sungguh melakukan upaya-upaya damai karena
berdamaiitu jauh lebih baik. Walaupun disadari bahwa manusia itu pada
dasarnya adalah cenderung arogan (sulit memaafkan). Sesungguhnya jika
kalian para suami bergaul dengan istrimu secara baik dan menjaga diri,
maka Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.
Yang menarik untuk digarisbawahi adalah bahwa ayat tersebut menyinggung soal nusyuznya suami. Selama ini pemahaman di masyarakat bahwa nusyuz hanyalah terjadi pada istri, padahal suami juga melakukannya. Maka siapapun yang melakukan nusyuz baik istri maupun suami haruslah meminta maaf kepada pasangannya untuk menjaga keharmonisan keluarga.
Jika
terjadi konflik dalam rumah tangga atau terganggu keharmonisannya, para
istri diharapkan untuk tidak tinggal diam dan pasrah, melainkan
mengambil prakarsa untuk memulihkan keadaan rumah tangga yang keruh
melalui upaya-upaya damai. Tidak hanya istri, suami pun dituntut untuk
proaktif melakukan rekonsiliasi sehingga keluarga tidak retak. Bahkan,
diakhir ayat ini para suami ditekankan untuk bersikap arif dan
bijaksana. [11]
Bahkan Islam melarang mempertahankan rumah tangga untuk menyakiti salah satunya dan lebih menganjurkan perpisahan.
وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا حَكِيمًا ( النساء: 130)
Artinya :
Jika
keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada
masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Luas
lagi Maha Bijaksana.
KESIMPULAN
Jargon Islam adalah “Islam Rahmatan lil alamin”. Maka tidak mungkin agama yang secara tegas menyatakan dirinya sebagai rahmah mendiskriminasikan
kaum yang satu dan mengunggulkan kaum yang lain. Al Qur’an juga dengan
jelas menyinggung persamaan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan
yang ada adalah perbedaan fungsional.
Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama mempunyai potensi untuk melakukan nusyuz maka
merupakan kewajiban bagi keduanya pula untuk selalu berupaya menjaga
keharmonisan rumahtangga.Yang mana dari awal harus selalu dilandasi
dengan prinsip menghargai dan menghargai hak-hak yang satu dengan yang
lain.
REFERENSI
1. Al Qur’an terjemah Departement Agama RI
2. Mulia, Siti Musdah. Islam Menggugat Poligami. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004.
3. Suhanjati, Sri. Islam Menentang Kekerasan terhadap Istri. Yogyakarta: Gama Media, 2004
4. Ismail, Nuurjannah. Perempuan dalam Pasungan: Bias Laki-Laki dalam Penafsiran. Yogyakarta: LKiS, 2003
5. Shihab, Quraisy. Tafsir Misbah. Ciputat: Lentera Hati, 2010. Cet.III. Vol.3.
6. Ar Razi. Al Tafsir al Kabir Mafatihul Ghaib
7. Al Alusy.Mahmud,Ruh al Ma’ani fi Tafsir al Qur’an al ‘Adzim wa al Sab’u al Ma’ani. Beirut: Dar al Turats al ‘Araby.
[1] Alqur’an terjemah Departemen Agama RI
[2] Qamaruddin Shaleh, HAA Dahlan, HD Dahlan. Asbabun Nuzul. Bandung: CV. Diponegoro, 1982. Hal 131.
[3] Dalam beberapa pembacaan Femenis kata al rijal mempunyai makna maskulinitas sedangkan al nisa’ bermakna
femininitas. Konsekuensinya yaitu berarti tidak selalu laki-laki yang
menjadi pemimpin rumah tangga, karena ada pula perempuan yang mempunyai
maskulinitas. Demikian sebaliknya,tidak semua laki-laki mempunyai
maskulinitas.
[4] Syihab, Quraisy.Tafsir Misbah.Ciputat: Lentera Hati, 2010. Cet.III. Vol.3.Hal 511
[5] Tafsir Ibnu Abbas
[6] Ismail, Nuurjannah.Dr. Perempuan dalam Pasungan. Yogyakarta: LKIS, 2003. Hal 326
[7] Ibid 180
[8] Tafsir Misbah Vol 3. Halaman 512
[9] Tafsir Misbah. Vol 3. Halaman. 510.
[10] Tafsir Al Mishbah Vol.3 halaman 516
[11] Mulia, Musdah. Islam Menggugat Poligami. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004.Hal. 110
Langganan:
Postingan (Atom)

