Salahkah (diciptakan) Sebagai
Perempuan ?
Seandainya
Rasulullah SAW masih hidup akan ku tanyakan banyak hal pada beliau tentang
perempuan. Sampai saat ini aku selalu meyakini bahwa Rasulullah pasti akan
memberikan jawaban yang bijaksana dan memuliakan perempuan karena bagaimanapun
Rasulullah SAW juga terlahir dari seorang perempuan.
Masih ku ingat
sewaktu aku kecil mengaji sering ku dengar tausiyah dari beberapa ustad dan
ustadzahku bahwa kebanyakan dari penghuni neraka adalah perempuan. Seperti yang
dijelaskan oleh beliau bahwa karena perempuan sering mengundang fitnah,
perempuan seringkali membantah suami, perempuan yang sering tergoda duniawi dan
perempuan dikatakan kurang agamanya karena perempuan tidak mengerjakan sholat
sepenuhnya dalam hidupnya dikarenakan terkurangi masa haid di setiap bulannya. Pernah
pula aku mendengarkan penjelasan bahwa perempuanlah
yang harus menanggung dosa ketika suaminya sholat menggunakan pakaian yang
masih najis karena sang istri saat mencucikannya. Bahkan pun ketika suaminya
selingkuh perempuan juga ikut menanggung dosa dengan alasan karena ia dinilai
tidak pandai memuaskan suami.
Dogma-dogma
yang pelan-pelan terjejal dalam otakku saat itu membuatku ingin memutar waktu
dan ingin mengubah takdir agar aku tidak terlahir sebagai perempuan. Sedangkan
hidup akan tetap mengalir, terserah manusia mau menjalani dengan sukarela atau
terpaksa. Masih ku ingat masa-masa itu dimana angan-angan surga yang melangit
akan dapat dicapai dengan mengabdikan diri kepada suami atau lebih tepatnya
jika memposisikan diri sebagai pelengkap yang baik.
Namun saat
hati ini tertarik dengan banyak hal diluar dogma-dogma yang ku terima dulu justru
membuat otak ini akhirnya mau untuk kompromi.
Dalam satu mata kuliyah gender yang saya ikut yang saat itu sedang
membahas tema imam perempuan. Salah satu pemakalah yang tidak setuju kalau
perempuan menjadi imam beralasan karena perempuan kurang agamanya, perempuan
mengundang fitnah hingga akhirnya adalah
karena perempuan merupakan makhluk terbanyak yang menghuni neraka. “ bagaiamana
bisa perempuan imam sholat sedangkan kebanyakan dari mereka adalah penghuni
neraka?” kemudian ia menguatkan
statemennya dengan salah satu hadits nabi yang menyatakan demikian yang
bunyinya :
عَنْ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ
تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ
النَّارِ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا
رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ قَالَتْ يَا
رَسُولَ اللَّهِ وَمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّينِ قَالَ أَمَّا نُقْصَانِ الْعَقْلِ
فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا مِنْ نُقْصَانِ الْعَقْلِ
وَتَمْكُثُ اللَّيَالِيَ مَا تُصَلِّي وَتُفْطِرُ فِي رَمَضَانَ فَهَذَا مِنْ نُقْصَانِ
الدِّينِ
Aku
benar-benar berfikir keras untuk mencernenya menjadi lebih logis. Tidak mungkin
Rasulullah bermaksud untuk mendiskriminasikan perempuan. Rasulullah SAW pasti menyayangi semua umatnya
baik laki-laki maupun perempuan, Rasulullah SAW pasti juga akan sepakat bahwa
kemulian seseorang tidak ditentukan dari jenis kelaminnya. Tidak ada satu dalil
pun yang menyatakan bahwa makhluk Tuhan yang punya penis itu mulia sedangkan
yang mempunyai vagina itu hina. Karena secara tegas Tuhan telah menjelaskan
bahwa kemuliaan seseorang adalah karena ketakwaannya.
إن أكرمكم عند الله أتقاكم
Dari sini bisa
kita lihat bahwa ada sesuatu yang ganjil tentang hadits diatas yang
menyatakan bahwa penghuni terbanyak dari
neraka dalah perempuan jika dipahami secara serampangan. Sehingga seolah-olah
derajat perempuan adalah lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Untuk memahami
hadits tersebut secara komprehensif memang perlu melakukan takhrij al hadits.
Namun terlepas dari itu, jika kita melihat pada budaya masyarakat arab saat itu
yang sama sekali tidak pro perempuan. Dimana perempuan saat itu dianggap
sebagai aib keluarga hingga jika melahirkan anak perempuan mereka merasa malu
dan kemudian membunuhnya, perempuan masa itu dianggap sama seperti barang yang
bisa diwariskan, sedangkan pergundikan dan pelacuran adalah hal yang sangat
wajar. Maka keikut sertaan perempuan dalam ranah social menjadi sangat tidak
dibutuhkan yang imbasnya kualitas perempuan baik dalam hal ilmu pengetahuan dan
ilmu agama tidak ada signifikansinya.
Sabda Nabi
diatas lebih mencerminkan keadaan wanita saat itu. Maka kemudian saya
memahaminya seolah nabi ingin mengatakan “ wahai kaum perempuan kalia jauh
tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan agama, maka jika kamu tetap seperti ini
terus pasti sebagian besar dari penghuni neraka adalah golongan kalian.” Dengan
perkataan yang sedikit “ menohok”
Rasulullah ingin mensupport perempuan untuk meningkatkan kualitasnya.
Saya sangat
menyadari jika pembaca ada yang berbeda dan tidak setuju dengan pendapat saya.
Memang disini saya tidak menyertakan takhrijul hadits, karena itu akan
membutuhkan kajian khusus yang lebih mendetail dari ini. Bagaimanapun anda
menanggapi pendapat saya, saya ucapkan terimakasih karena telah turut
memperdengarkan suara perempuan yang merindukan kebebasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar