Senin, 12 Maret 2012

Hak Perempuan


Salahkah (diciptakan) Sebagai Perempuan ?
Seandainya Rasulullah SAW masih hidup akan ku tanyakan banyak hal pada beliau tentang perempuan. Sampai saat ini aku selalu meyakini bahwa Rasulullah pasti akan memberikan jawaban yang bijaksana dan memuliakan perempuan karena bagaimanapun Rasulullah SAW juga terlahir dari seorang perempuan.
Masih ku ingat sewaktu aku kecil mengaji sering ku dengar tausiyah dari beberapa ustad dan ustadzahku bahwa kebanyakan dari penghuni neraka adalah perempuan. Seperti yang dijelaskan oleh beliau bahwa karena perempuan sering mengundang fitnah, perempuan seringkali membantah suami, perempuan yang sering tergoda duniawi dan perempuan dikatakan kurang agamanya karena perempuan tidak mengerjakan sholat sepenuhnya dalam hidupnya dikarenakan terkurangi masa haid di setiap bulannya. Pernah pula aku mendengarkan penjelasan bahwa  perempuanlah yang harus menanggung dosa ketika suaminya sholat menggunakan pakaian yang masih najis karena sang istri saat mencucikannya. Bahkan pun ketika suaminya selingkuh perempuan juga ikut menanggung dosa dengan alasan karena ia dinilai tidak pandai memuaskan suami.
Dogma-dogma yang pelan-pelan terjejal dalam otakku saat itu membuatku ingin memutar waktu dan ingin mengubah takdir agar aku tidak terlahir sebagai perempuan. Sedangkan hidup akan tetap mengalir, terserah manusia mau menjalani dengan sukarela atau terpaksa. Masih ku ingat masa-masa itu dimana angan-angan surga yang melangit akan dapat dicapai dengan mengabdikan diri kepada suami atau lebih tepatnya jika memposisikan diri sebagai pelengkap yang baik.
Namun saat hati ini tertarik dengan banyak hal diluar dogma-dogma yang ku terima dulu justru membuat otak ini akhirnya mau untuk kompromi.  Dalam satu mata kuliyah gender yang saya ikut yang saat itu sedang membahas tema imam perempuan. Salah satu pemakalah yang tidak setuju kalau perempuan menjadi imam beralasan karena perempuan kurang agamanya, perempuan mengundang fitnah hingga  akhirnya adalah karena perempuan merupakan makhluk terbanyak yang menghuni neraka. “ bagaiamana bisa perempuan imam sholat sedangkan kebanyakan dari mereka adalah penghuni neraka?”  kemudian ia menguatkan statemennya dengan salah satu hadits nabi yang menyatakan demikian yang bunyinya :
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّينِ قَالَ أَمَّا نُقْصَانِ الْعَقْلِ فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا مِنْ نُقْصَانِ الْعَقْلِ وَتَمْكُثُ اللَّيَالِيَ مَا تُصَلِّي وَتُفْطِرُ فِي رَمَضَانَ فَهَذَا مِنْ نُقْصَانِ الدِّينِ
Aku benar-benar berfikir keras untuk mencernenya menjadi lebih logis. Tidak mungkin Rasulullah bermaksud untuk mendiskriminasikan perempuan.  Rasulullah SAW pasti menyayangi semua umatnya baik laki-laki maupun perempuan, Rasulullah SAW pasti juga akan sepakat bahwa kemulian seseorang tidak ditentukan dari jenis kelaminnya. Tidak ada satu dalil pun yang menyatakan bahwa makhluk Tuhan yang punya penis itu mulia sedangkan yang mempunyai vagina itu hina. Karena secara tegas Tuhan telah menjelaskan bahwa kemuliaan seseorang adalah karena ketakwaannya.
إن أكرمكم عند الله أتقاكم
Dari sini bisa kita lihat bahwa ada sesuatu yang ganjil tentang hadits diatas yang menyatakan  bahwa penghuni terbanyak dari neraka dalah perempuan jika dipahami secara serampangan. Sehingga seolah-olah derajat perempuan adalah lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Untuk memahami hadits tersebut secara komprehensif memang perlu melakukan takhrij al hadits. Namun terlepas dari itu, jika kita melihat pada budaya masyarakat arab saat itu yang sama sekali tidak pro perempuan. Dimana perempuan saat itu dianggap sebagai aib keluarga hingga jika melahirkan anak perempuan mereka merasa malu dan kemudian membunuhnya, perempuan masa itu dianggap sama seperti barang yang bisa diwariskan, sedangkan pergundikan dan pelacuran adalah hal yang sangat wajar. Maka keikut sertaan perempuan dalam ranah social menjadi sangat tidak dibutuhkan yang imbasnya kualitas perempuan baik dalam hal ilmu pengetahuan dan ilmu agama tidak ada signifikansinya.
Sabda Nabi diatas lebih mencerminkan keadaan wanita saat itu. Maka kemudian saya memahaminya seolah nabi ingin mengatakan “ wahai kaum perempuan kalia jauh tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan agama, maka jika kamu tetap seperti ini terus pasti sebagian besar dari penghuni neraka adalah golongan kalian.” Dengan perkataan yang sedikit “ menohok”  Rasulullah ingin mensupport perempuan untuk meningkatkan kualitasnya.
Saya sangat menyadari jika pembaca ada yang berbeda dan tidak setuju dengan pendapat saya. Memang disini saya tidak menyertakan takhrijul hadits, karena itu akan membutuhkan kajian khusus yang lebih mendetail dari ini. Bagaimanapun anda menanggapi pendapat saya, saya ucapkan terimakasih karena telah turut memperdengarkan suara perempuan yang merindukan kebebasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar