Senin, 16 April 2012

Review YIFOS Camp 
Tanggal 9-15 April aku menyinggahi kota pelajar Yogjakarta yaitu untuk mengikuti YIFOS camp. Forum kepemudaan diskusi lintas iman ddan lintas sexual merayakan kebersamaan melalui keberagaman. Tepatnya acara dimulai pada tanggal 10-14 April di Omah Jawi Kaliurang, Yogyakarta. Namun peserta diminta datang lebih awal tanggal 9 April karena ada sesi perkenalan atau Welcome session yang diisi dengan perkenalan dari panitia dan permainan. Baru hari kedua ada acara perkenalan untuk peserta. Dan hari-hari selanjutnya kami mendapat banyak sekali materi dan pelajaran-pelajaran tentang nilai-nilai kebersamaan, keragaman, berbagi dan menghormati melalui diskusi juga permainan. Bersama teman dengan beraneka ragam latar belakang yang berbeda membuatku masih menyimpan berbagai tanya dalam otak. Mengapa bisa seperti itu, mengapa demikian, bagaimana jika seperti ini atau itu? Dll. Aku banyak belajar mengenai siapa diri sendiri. Teringat pertanyaan Bunda Anna apa yang dekat jauh dari kita tapi juga jauh dari kita. Kemudian ada yang menjawab diri sendiri. Karena sering kali kita tidak puas dengan diri malah menginginkannya untuk menjadi orang lain, atau karena kita telah tak mengenali diri kita yang seharusnya menjadi seutuhnya milik kita malah menjadi “instrument political” menjadi bahan rebutan adat, norma, budaya, keluarga, kapitalis dan politik. Sering kita tak mampu membawa diri ini seperti apa yang kita inginkan.Identitas apa yang ingin kita sematkan pada tubuh ini, baju apa yang ingin kita pakaikan dan nilai apa yang ingin kita jadikan pegangan. Dalam camp ini kita juga membongkar makna kenormalan dan ketidak normalan yang dikonsepsikan oleh masyarakat. Karena issu yang diusung adalah tentang LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, insexual, dan queer) maka kata normal dan tidak normal (terkait homosexual) yang sering kita dengar di masyarakat menjadi pembahasan yang paling dasar. Bahwa normal dan tidak normal adalah sebenarnya tiak ada. Karena kata normal samapi saat ini masih mengandung makna “ yang umum” sedangkan tidak normal adalah “berbeda”. Namun karena adanya yang berbeda itulah sesuatu menjadi indah makanya dualism normal dan tidak normal harus mengalami dekonstruksi menjadi nilai-nilai kebersamaan. Ketika mulai membahas tentang hukum-hukum agama tentanng praktek homosexual disitulah sessi yang menimbulkan beribu tanda tanya dalam tempurungku. Wajar, karena aku adalah mahasiswa tafsir hadits maka secara tidak sengaja atau seperti telah dikonsepsikan rapi dalam otakku untuk selalu memandang fenomena yang tertangkap oleh mata ini dengan menggunakan analisa tafsir. Apalagi jika itu berkenaan dengan hukum-hukum islam. Harapanku aku bisa kontinyu untuk bersama-sama dengan teman-teman LGBTIQ untuk memperjuangkan hak-hak mereka agar tak lagi di pandang “miring” di masyarakat. Tidak ada yang bisa memilih kita mau dilahirkan seperti apa, namun kita bisa memilih bagaimana hidup kita selanjutnya walaupun seringkali rencana itu tak sempurna. (KBS) Semarang, 16 April 2012 Abtiq Mutma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar