Kamis, 17 Mei 2012

18 Mei 2012
aku tak tahu apa yang terjadi dalam diriku, perlahan diriku yang dulu menghilang. aku sekarang menemui diriku sbagai entitas yang selalu mengedepankan fungsi otak. Namun akhir-akhir ini aku merasa kering dan tak tahu arah. sering kali aku tak lagi mampu memaksa diriku sendiri untuk bangkit dan melawan nafsu yang melenakan.
ku kira Tuhan telah menegurku, bahwa ternyata untuk mengatur hawa nafsu ini manusia perlu mensosokkan entitas yang tak terbatas.
kemarin nggak tahu kenapa. aku seharian mengaji beberapa kali. ternyata itu membuat hatiku tenang dan pula aku lebih konsentrasi mengerjakan skripsi. aku jadi teringat dengan apa yang diwejangkan oleh ayahku untuk membaca alfatihah setiap habis sholat isya'. tapi sayangnya aku tidak pernah menjalankannya.
aku menempatkan diri ini seolah dalam perjalanan yang sangat jauh, perjalanan mencari Tuhan, perjalanan mencari How am I, dan menjawa pertanyaan what will you do in the wolrd? apakah hanya menjalani rutinitas bekerja, hasilnya untuk makan, lalu dikeluarkan? lalu tidur? jika hanya demikian mungkin hidup kita akan membosankan.

Minggu, 22 April 2012

Tanggal 22 April 2012
Curhat Galau
Malam ini tak begitu dingin, hangat malahan aku bilang. Namun kehangatan itu belum mampu menetramkan kegelisahanku. Kegelisahan yang timbul karena ulahku sendiri yang tak mau sedari awal bersungguh-sungguh mengerjakan skripsi. Kini saat deadline tinggal 1 bulan lebih beberapa hari baru ku menyadari, aku tertatih.
Ingin ku ulang waktu dan ku kumpulan serpihan semangat yang dulu pernah ada, bahwa ku ingin lulus semerter 7. Ingin ku "tambal" waktu yang terbuang itu dengan tekad yang tersisa dalam hati walaupun kadang tak mau berkompromi. Hampi-hampir dan sering aku akan terseret pada jurang kepesimisan. Banyak alasan yang menyertai itu: skripsi sudah ada yang bahaslah, sibuk ini itulah, dan lah-lah yang lain. Kadang aku ingin tidak percaya pada diriku sendiri, namun aku tambah bimbang. Jika aku tidak percaya dengan diriku sendiri lalu kepada siapa aku akan mempercayakan hidup ini. Akhirnya jimat yang manjur menentramkan jiwa ini adalah kata " Ayo Iin kamu pasti bisa"

Jumat, 20 April 2012

            Refleksi Hari Kartini

            Bertahun-tahun perjuangan para aktivis perempuan untuk mengeluarkan perempuan dari kungkungan patriarki ternyata masih di persimpangan. Perempuan masih saja tak punya kuasa, bahkan atas tubuhnya sendiri. Teringat salah satu hadits Nabi yang mengatakan:
الدنيا متاع وخير متاعها المرأة الصالحة  )رواه مسلم)
“ Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan yang shalihah”
Dulu aku tidak pernah berfikir kritis atas hadits ini, aku merasa tersanjung sebagai perempuan yang dikatakan menjadi perhiasan dunia dan aku merasa nyaman saat mendengarkannya. Tapi belakangan aku menjadi mempertanyakan,
1.       Ketika perempuan menjadi perhiasan, apakah kemudian ia hanya menjadi pelengkap? Yang berfungsi membantu yang “dilengkapi” agar mampu berjalan dengan baik.
2.       Ketika perempuan di analogikan sebagai perhiasan, apa kemudian ia seperti halnya benda yang dapat disimpan, diperlihatkan, dipamerkan, dimiliki dan bahkan dijual atas otoritas pemiliknya?
3.       Ketika perempuan dianggap sebagai perhiasan apakah itu berarti ia kehilangan independensi diri?
Banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Dia bukan sebagai pelengkap dan hanya menghiasi rumahnya. Tapi ia di garda depan, ujunng tombak keluarga yang memperjuangkan nasib anak-anaknya. Ku fikir kita harus beribu kali jika hendak mengatakan perempuan adalah perhiasan.
Dan jika memang benar perempuan itu perhiasan yang bisa memperindah, maka apalah arti keindahan itu sendiri jika malah menjadi kutukan bagi perempuan.  Karena keindahannya ia harus tersimpan dalam sudut-sudut rumah yang pengap dan hanya di kenalkan peran “ kasur, sumur dan dapur” , tubuh perempuan dianggap sebagai komoditi yang bisa diperjual belikan dan ia dituntut untuk menjaga keindahannya dalam belenggu budaya yang mendefinisikannya “Siapakah perempuan?”
Setiap langkah dari perempuan, tutur katanya, senyumnya, bicaranya, cara makan dan minumnya, cara memandangnya, jengkal dari tubuhnya, setiap helai benang yang melekat dibadannya dan atribut-atribut yang ada pada dirinya harus dipakemkan.  Hingga menjadikan perempuan tak mempunyai keberanian untuk mengenali diri sendiri secara telanjang.
Di awali oleh RA.Kartini generasi awal perempuan Indonesia yang menyadari pentingnya meningkatkan kualitas kaumnya. Sampai sini perjuangan perempuan belum purna. Estafet semangatnya harus terus berlanjut. Mengeluarkan perempuan dari " melengkapi" menjadi "mengendalikan". Hingga perempuan berani menjadi dirinya sendiri dan berdiri di atas kakinya sendiri. “Saatnya perempuan berani membuat keputusan”.
Aku mengenal kalian yang berbeda-beda dengan hatiku. Berbeda itu bukan berarti harus dibeda-bedakan. Karena berbeda itulah yang menyadarkan kita bahwa aku, kamu, kalian, mereka dan kita semua ada dengan keunikan masing-masing. I miss you all peacemakers generation YIFOS. (RI)

Senin, 16 April 2012

Untitled
Tangan-Mu begitu agung Tuhan,….
Tak mungkin kau ciptakan sesuatu yang tak sempurna
Tapi mungkin Kau menciptakan aku berbeda
Tak sempurna itu datang dari bahasa manusia
 Tidak normal datang dari pandangan yang tak suka
Yang kemudian menjadi tunas benci dan diskriminasi
 Kawan jika kau tak paham kata “berbeda” sudahlah,….
Tak usah kau memikirkannya lagi
Asalkan kau masih bisa menikmati keindahan ini
Keindahan sebagai manifestasi perbedaan,.
Yang tak kunjung usai kau jamahi dengan otak lugumu.
Oleh: Abtiq Mutma
Review YIFOS Camp 
Tanggal 9-15 April aku menyinggahi kota pelajar Yogjakarta yaitu untuk mengikuti YIFOS camp. Forum kepemudaan diskusi lintas iman ddan lintas sexual merayakan kebersamaan melalui keberagaman. Tepatnya acara dimulai pada tanggal 10-14 April di Omah Jawi Kaliurang, Yogyakarta. Namun peserta diminta datang lebih awal tanggal 9 April karena ada sesi perkenalan atau Welcome session yang diisi dengan perkenalan dari panitia dan permainan. Baru hari kedua ada acara perkenalan untuk peserta. Dan hari-hari selanjutnya kami mendapat banyak sekali materi dan pelajaran-pelajaran tentang nilai-nilai kebersamaan, keragaman, berbagi dan menghormati melalui diskusi juga permainan. Bersama teman dengan beraneka ragam latar belakang yang berbeda membuatku masih menyimpan berbagai tanya dalam otak. Mengapa bisa seperti itu, mengapa demikian, bagaimana jika seperti ini atau itu? Dll. Aku banyak belajar mengenai siapa diri sendiri. Teringat pertanyaan Bunda Anna apa yang dekat jauh dari kita tapi juga jauh dari kita. Kemudian ada yang menjawab diri sendiri. Karena sering kali kita tidak puas dengan diri malah menginginkannya untuk menjadi orang lain, atau karena kita telah tak mengenali diri kita yang seharusnya menjadi seutuhnya milik kita malah menjadi “instrument political” menjadi bahan rebutan adat, norma, budaya, keluarga, kapitalis dan politik. Sering kita tak mampu membawa diri ini seperti apa yang kita inginkan.Identitas apa yang ingin kita sematkan pada tubuh ini, baju apa yang ingin kita pakaikan dan nilai apa yang ingin kita jadikan pegangan. Dalam camp ini kita juga membongkar makna kenormalan dan ketidak normalan yang dikonsepsikan oleh masyarakat. Karena issu yang diusung adalah tentang LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, insexual, dan queer) maka kata normal dan tidak normal (terkait homosexual) yang sering kita dengar di masyarakat menjadi pembahasan yang paling dasar. Bahwa normal dan tidak normal adalah sebenarnya tiak ada. Karena kata normal samapi saat ini masih mengandung makna “ yang umum” sedangkan tidak normal adalah “berbeda”. Namun karena adanya yang berbeda itulah sesuatu menjadi indah makanya dualism normal dan tidak normal harus mengalami dekonstruksi menjadi nilai-nilai kebersamaan. Ketika mulai membahas tentang hukum-hukum agama tentanng praktek homosexual disitulah sessi yang menimbulkan beribu tanda tanya dalam tempurungku. Wajar, karena aku adalah mahasiswa tafsir hadits maka secara tidak sengaja atau seperti telah dikonsepsikan rapi dalam otakku untuk selalu memandang fenomena yang tertangkap oleh mata ini dengan menggunakan analisa tafsir. Apalagi jika itu berkenaan dengan hukum-hukum islam. Harapanku aku bisa kontinyu untuk bersama-sama dengan teman-teman LGBTIQ untuk memperjuangkan hak-hak mereka agar tak lagi di pandang “miring” di masyarakat. Tidak ada yang bisa memilih kita mau dilahirkan seperti apa, namun kita bisa memilih bagaimana hidup kita selanjutnya walaupun seringkali rencana itu tak sempurna. (KBS) Semarang, 16 April 2012 Abtiq Mutma

Sabtu, 07 April 2012

Puisi dari rakyat


Balada Negeri Ini
Pejabat:
Rakyatku ulurkan kepala kalian untukku
Akan ku susun untuk sebagai tangga 
menuju Istana kemegahanku
Bukankah sering ku dendangkan kisah yang sangat indah tentangnya
Percayalah setelah aku sampai diatas akan ku ulurkan tanganku
Akan ku ajak kalian bersamaku tertawa didalamnya,istanaku


Rakyat :
Pemimpinku… itu yang selalu diucapkan manusia sejenismu
Tapi setelah sampai di atas kalian berpaling kepada kami dan tersenyum
Tersenyum setelah meludah kepada gundul-gundul yang pernah menjadi anak tanggamu ini.
Kami yang haus karenamu apakah harus menelan ludahmu itu?
Pejabat:
Janganlah begitu rakyatku sayang……..
Kalian adalah segalanya bagiku.
Tahukah kalian, aku berjuang mati-matian di mata internasional untuk kalian.
Ku pinjamkan uang sana-sini agar kalian bisa makan.
Agar kalian selalu kuat untuk ku injak.
Rakyat:
Ya…kami sangat paham itu.
Kami adalah segalanya bagimu
Karena keringat kami kau peras
Kau nikmati layaknya madu bagimu
Tulang kami adalah tiang bagi kekuasaanmu
Dan atas nama kemiskinan kami, kau seret  Negara ini ke perangkap neo-kolonialisme
Pejabat:
Janganlah berucap seperti itu
Tidakkah kalian rasakan saat bencana menimpa kalian.
Siapa yang memberikan ganti rugi untuk kalian?
Dan aku selalu ikhlas menjadi sibuk mengurus kalian
Ikhlas jika kalian selalu dalam kemiskinan
Rakyat:
Brengsek….
Kami tidak miskin.
Negara ini sangat kaya…tidakkah kau membuka matamu!
Bencana itu hanyalah bentuk perjuangan alam.
Ia berjuang sendiri untuk meyelamatkan diri dari perkosaan kapitalis
Alam berjuang sendiri
Karena manusia yang miskin hati seperti kalian tak pernah peduli
Dan satu-satunya kemiskinan kami adalah miskin pemimpin yang punya hati nurani
Kau bohong dimata dunia bahwa negeri ini miskin.
Kebohonganmu itu adalah bentuk terbesar penjajahanmu.
Cuih …kami kembalikan ludah busukmu itu.
                                                                                    Written by: Abtiq Mutma