Tanggal 22 April 2012
Curhat Galau
Malam ini tak begitu dingin, hangat malahan aku bilang. Namun kehangatan itu belum mampu menetramkan kegelisahanku. Kegelisahan yang timbul karena ulahku sendiri yang tak mau sedari awal bersungguh-sungguh mengerjakan skripsi. Kini saat deadline tinggal 1 bulan lebih beberapa hari baru ku menyadari, aku tertatih.
Ingin ku ulang waktu dan ku kumpulan serpihan semangat yang dulu pernah ada, bahwa ku ingin lulus semerter 7. Ingin ku "tambal" waktu yang terbuang itu dengan tekad yang tersisa dalam hati walaupun kadang tak mau berkompromi. Hampi-hampir dan sering aku akan terseret pada jurang kepesimisan. Banyak alasan yang menyertai itu: skripsi sudah ada yang bahaslah, sibuk ini itulah, dan lah-lah yang lain. Kadang aku ingin tidak percaya pada diriku sendiri, namun aku tambah bimbang. Jika aku tidak percaya dengan diriku sendiri lalu kepada siapa aku akan mempercayakan hidup ini. Akhirnya jimat yang manjur menentramkan jiwa ini adalah kata " Ayo Iin kamu pasti bisa"
Minggu, 22 April 2012
Jumat, 20 April 2012
Refleksi Hari Kartini
Bertahun-tahun
perjuangan para aktivis perempuan untuk mengeluarkan perempuan dari kungkungan
patriarki ternyata masih di persimpangan. Perempuan masih saja tak punya kuasa,
bahkan atas tubuhnya sendiri. Teringat salah satu hadits Nabi yang mengatakan:
الدنيا متاع
وخير متاعها المرأة الصالحة )رواه مسلم)
“ Dunia itu adalah perhiasan, dan
sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan yang shalihah”
Dulu aku tidak pernah berfikir kritis atas hadits ini, aku merasa
tersanjung sebagai perempuan yang dikatakan menjadi perhiasan dunia dan aku
merasa nyaman saat mendengarkannya. Tapi belakangan aku menjadi mempertanyakan,
1.
Ketika perempuan menjadi perhiasan, apakah
kemudian ia hanya menjadi pelengkap? Yang berfungsi membantu yang “dilengkapi”
agar mampu berjalan dengan baik.
2.
Ketika perempuan di analogikan sebagai
perhiasan, apa kemudian ia seperti halnya benda yang dapat disimpan,
diperlihatkan, dipamerkan, dimiliki dan bahkan dijual atas otoritas pemiliknya?
3.
Ketika
perempuan dianggap sebagai perhiasan apakah itu berarti ia kehilangan
independensi diri?
Banyak perempuan yang menjadi tulang
punggung keluarga. Dia bukan sebagai pelengkap dan hanya menghiasi rumahnya.
Tapi ia di garda depan, ujunng tombak keluarga yang memperjuangkan nasib
anak-anaknya. Ku fikir kita harus beribu kali jika hendak mengatakan perempuan
adalah perhiasan.
Dan jika memang benar perempuan itu
perhiasan yang bisa memperindah, maka apalah arti keindahan itu sendiri jika
malah menjadi kutukan bagi perempuan.
Karena keindahannya ia harus tersimpan dalam sudut-sudut rumah yang
pengap dan hanya di kenalkan peran “ kasur, sumur dan dapur” , tubuh
perempuan dianggap sebagai komoditi yang bisa diperjual belikan dan ia dituntut
untuk menjaga keindahannya dalam belenggu budaya yang mendefinisikannya
“Siapakah perempuan?”
Setiap langkah dari perempuan, tutur
katanya, senyumnya, bicaranya, cara makan dan minumnya, cara memandangnya,
jengkal dari tubuhnya, setiap helai benang yang melekat dibadannya dan
atribut-atribut yang ada pada dirinya harus dipakemkan. Hingga menjadikan perempuan tak mempunyai
keberanian untuk mengenali diri sendiri secara telanjang.
Di awali oleh RA.Kartini generasi
awal perempuan Indonesia yang menyadari pentingnya meningkatkan kualitas
kaumnya. Sampai sini perjuangan perempuan belum purna. Estafet semangatnya
harus terus berlanjut. Mengeluarkan perempuan dari " melengkapi" menjadi "mengendalikan". Hingga perempuan berani menjadi dirinya sendiri dan
berdiri di atas kakinya sendiri. “Saatnya perempuan berani membuat keputusan”.
Senin, 16 April 2012
Untitled
Tangan-Mu begitu agung Tuhan,….
Tak mungkin kau ciptakan sesuatu yang tak sempurna
Tapi mungkin Kau menciptakan aku berbeda
Tak sempurna itu datang dari bahasa manusia
Tidak normal datang dari pandangan yang tak suka
Yang kemudian menjadi tunas benci dan diskriminasi
Kawan jika kau tak paham kata “berbeda” sudahlah,….
Tak usah kau memikirkannya lagi
Asalkan kau masih bisa menikmati keindahan ini
Keindahan sebagai manifestasi perbedaan,.
Yang tak kunjung usai kau jamahi dengan otak lugumu.
Oleh: Abtiq Mutma
Tangan-Mu begitu agung Tuhan,….
Tak mungkin kau ciptakan sesuatu yang tak sempurna
Tapi mungkin Kau menciptakan aku berbeda
Tak sempurna itu datang dari bahasa manusia
Tidak normal datang dari pandangan yang tak suka
Yang kemudian menjadi tunas benci dan diskriminasi
Kawan jika kau tak paham kata “berbeda” sudahlah,….
Tak usah kau memikirkannya lagi
Asalkan kau masih bisa menikmati keindahan ini
Keindahan sebagai manifestasi perbedaan,.
Yang tak kunjung usai kau jamahi dengan otak lugumu.
Oleh: Abtiq Mutma
Review YIFOS Camp
Tanggal 9-15 April aku menyinggahi kota pelajar Yogjakarta yaitu untuk mengikuti YIFOS camp. Forum kepemudaan diskusi lintas iman ddan lintas sexual merayakan kebersamaan melalui keberagaman. Tepatnya acara dimulai pada tanggal 10-14 April di Omah Jawi Kaliurang, Yogyakarta. Namun peserta diminta datang lebih awal tanggal 9 April karena ada sesi perkenalan atau Welcome session yang diisi dengan perkenalan dari panitia dan permainan. Baru hari kedua ada acara perkenalan untuk peserta. Dan hari-hari selanjutnya kami mendapat banyak sekali materi dan pelajaran-pelajaran tentang nilai-nilai kebersamaan, keragaman, berbagi dan menghormati melalui diskusi juga permainan. Bersama teman dengan beraneka ragam latar belakang yang berbeda membuatku masih menyimpan berbagai tanya dalam otak. Mengapa bisa seperti itu, mengapa demikian, bagaimana jika seperti ini atau itu? Dll. Aku banyak belajar mengenai siapa diri sendiri. Teringat pertanyaan Bunda Anna apa yang dekat jauh dari kita tapi juga jauh dari kita. Kemudian ada yang menjawab diri sendiri. Karena sering kali kita tidak puas dengan diri malah menginginkannya untuk menjadi orang lain, atau karena kita telah tak mengenali diri kita yang seharusnya menjadi seutuhnya milik kita malah menjadi “instrument political” menjadi bahan rebutan adat, norma, budaya, keluarga, kapitalis dan politik. Sering kita tak mampu membawa diri ini seperti apa yang kita inginkan.Identitas apa yang ingin kita sematkan pada tubuh ini, baju apa yang ingin kita pakaikan dan nilai apa yang ingin kita jadikan pegangan. Dalam camp ini kita juga membongkar makna kenormalan dan ketidak normalan yang dikonsepsikan oleh masyarakat. Karena issu yang diusung adalah tentang LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, insexual, dan queer) maka kata normal dan tidak normal (terkait homosexual) yang sering kita dengar di masyarakat menjadi pembahasan yang paling dasar. Bahwa normal dan tidak normal adalah sebenarnya tiak ada. Karena kata normal samapi saat ini masih mengandung makna “ yang umum” sedangkan tidak normal adalah “berbeda”. Namun karena adanya yang berbeda itulah sesuatu menjadi indah makanya dualism normal dan tidak normal harus mengalami dekonstruksi menjadi nilai-nilai kebersamaan. Ketika mulai membahas tentang hukum-hukum agama tentanng praktek homosexual disitulah sessi yang menimbulkan beribu tanda tanya dalam tempurungku. Wajar, karena aku adalah mahasiswa tafsir hadits maka secara tidak sengaja atau seperti telah dikonsepsikan rapi dalam otakku untuk selalu memandang fenomena yang tertangkap oleh mata ini dengan menggunakan analisa tafsir. Apalagi jika itu berkenaan dengan hukum-hukum islam. Harapanku aku bisa kontinyu untuk bersama-sama dengan teman-teman LGBTIQ untuk memperjuangkan hak-hak mereka agar tak lagi di pandang “miring” di masyarakat. Tidak ada yang bisa memilih kita mau dilahirkan seperti apa, namun kita bisa memilih bagaimana hidup kita selanjutnya walaupun seringkali rencana itu tak sempurna. (KBS) Semarang, 16 April 2012 Abtiq Mutma
Tanggal 9-15 April aku menyinggahi kota pelajar Yogjakarta yaitu untuk mengikuti YIFOS camp. Forum kepemudaan diskusi lintas iman ddan lintas sexual merayakan kebersamaan melalui keberagaman. Tepatnya acara dimulai pada tanggal 10-14 April di Omah Jawi Kaliurang, Yogyakarta. Namun peserta diminta datang lebih awal tanggal 9 April karena ada sesi perkenalan atau Welcome session yang diisi dengan perkenalan dari panitia dan permainan. Baru hari kedua ada acara perkenalan untuk peserta. Dan hari-hari selanjutnya kami mendapat banyak sekali materi dan pelajaran-pelajaran tentang nilai-nilai kebersamaan, keragaman, berbagi dan menghormati melalui diskusi juga permainan. Bersama teman dengan beraneka ragam latar belakang yang berbeda membuatku masih menyimpan berbagai tanya dalam otak. Mengapa bisa seperti itu, mengapa demikian, bagaimana jika seperti ini atau itu? Dll. Aku banyak belajar mengenai siapa diri sendiri. Teringat pertanyaan Bunda Anna apa yang dekat jauh dari kita tapi juga jauh dari kita. Kemudian ada yang menjawab diri sendiri. Karena sering kali kita tidak puas dengan diri malah menginginkannya untuk menjadi orang lain, atau karena kita telah tak mengenali diri kita yang seharusnya menjadi seutuhnya milik kita malah menjadi “instrument political” menjadi bahan rebutan adat, norma, budaya, keluarga, kapitalis dan politik. Sering kita tak mampu membawa diri ini seperti apa yang kita inginkan.Identitas apa yang ingin kita sematkan pada tubuh ini, baju apa yang ingin kita pakaikan dan nilai apa yang ingin kita jadikan pegangan. Dalam camp ini kita juga membongkar makna kenormalan dan ketidak normalan yang dikonsepsikan oleh masyarakat. Karena issu yang diusung adalah tentang LGBTIQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, insexual, dan queer) maka kata normal dan tidak normal (terkait homosexual) yang sering kita dengar di masyarakat menjadi pembahasan yang paling dasar. Bahwa normal dan tidak normal adalah sebenarnya tiak ada. Karena kata normal samapi saat ini masih mengandung makna “ yang umum” sedangkan tidak normal adalah “berbeda”. Namun karena adanya yang berbeda itulah sesuatu menjadi indah makanya dualism normal dan tidak normal harus mengalami dekonstruksi menjadi nilai-nilai kebersamaan. Ketika mulai membahas tentang hukum-hukum agama tentanng praktek homosexual disitulah sessi yang menimbulkan beribu tanda tanya dalam tempurungku. Wajar, karena aku adalah mahasiswa tafsir hadits maka secara tidak sengaja atau seperti telah dikonsepsikan rapi dalam otakku untuk selalu memandang fenomena yang tertangkap oleh mata ini dengan menggunakan analisa tafsir. Apalagi jika itu berkenaan dengan hukum-hukum islam. Harapanku aku bisa kontinyu untuk bersama-sama dengan teman-teman LGBTIQ untuk memperjuangkan hak-hak mereka agar tak lagi di pandang “miring” di masyarakat. Tidak ada yang bisa memilih kita mau dilahirkan seperti apa, namun kita bisa memilih bagaimana hidup kita selanjutnya walaupun seringkali rencana itu tak sempurna. (KBS) Semarang, 16 April 2012 Abtiq Mutma
Sabtu, 07 April 2012
Puisi dari rakyat
Balada Negeri Ini
Pejabat:
Rakyatku ulurkan
kepala kalian untukku
Akan ku susun
untuk sebagai tangga
menuju Istana kemegahanku
Percayalah setelah
aku sampai diatas akan ku ulurkan tanganku
Akan ku ajak
kalian bersamaku tertawa didalamnya,istanaku
Rakyat :
Pemimpinku… itu
yang selalu diucapkan manusia sejenismu
Tapi setelah
sampai di atas kalian berpaling kepada kami dan tersenyum
Tersenyum setelah
meludah kepada gundul-gundul yang pernah menjadi anak tanggamu ini.
Kami yang haus
karenamu apakah harus menelan ludahmu itu?
Pejabat:
Janganlah begitu
rakyatku sayang……..
Kalian adalah
segalanya bagiku.
Tahukah kalian,
aku berjuang mati-matian di mata internasional untuk kalian.
Ku pinjamkan uang
sana-sini agar kalian bisa makan.
Agar kalian selalu
kuat untuk ku injak.
Rakyat:
Ya…kami sangat
paham itu.
Kami adalah
segalanya bagimu
Karena keringat
kami kau peras
Kau nikmati
layaknya madu bagimu
Tulang kami adalah
tiang bagi kekuasaanmu
Dan atas nama
kemiskinan kami, kau seret Negara ini ke
perangkap neo-kolonialisme
Pejabat:
Janganlah berucap
seperti itu
Tidakkah kalian
rasakan saat bencana menimpa kalian.
Siapa yang
memberikan ganti rugi untuk kalian?
Dan aku selalu
ikhlas menjadi sibuk mengurus kalian
Ikhlas jika kalian
selalu dalam kemiskinan
Rakyat:
Brengsek….
Kami tidak miskin.
Negara ini sangat
kaya…tidakkah kau membuka matamu!
Bencana itu
hanyalah bentuk perjuangan alam.
Ia berjuang
sendiri untuk meyelamatkan diri dari perkosaan kapitalis
Alam berjuang
sendiri
Karena manusia
yang miskin hati seperti kalian tak pernah peduli
Dan satu-satunya
kemiskinan kami adalah miskin pemimpin yang punya hati nurani
Kau bohong dimata
dunia bahwa negeri ini miskin.
Kebohonganmu itu adalah
bentuk terbesar penjajahanmu.
Cuih …kami
kembalikan ludah busukmu itu.
Written
by: Abtiq Mutma
Rabu, 14 Maret 2012
Dengarkan jeritan kami
(untitled)
Kami bukan lagi
bunga pajangan
yang layu dalam jambangan.
Cantik dalam menurut
indah dalam menyerah
molek tidak menentang
ke neraka mesti mengikut
ke sorga hanya menumpang.
Kami bukan juga
bunga tercampak
dalam hidup terinjak-injak.
Penjual keringat murah
buruh separuh harga
tiada perlindungan
tiada persamaan,
sarat dimuati beban.
Kami telah berseru
dari balik dinding pingitan
dari dendam pemaduan
dari perdagangan di lorong malam
dari kesumat kawin paksaan:
"Kami manusia"
Sugiarti, 1962
Langganan:
Postingan (Atom)

